Beni Mencari Cinta…(laura???) part 2

1
292
Beri Nilai untuk Artikel ini

“Hah?? Apa?? Maksud lo apaan, Ben??”, Sarah tampak kebingungan dengan pertanyaan yang diajukan oleh Beni.

“Aduh, Sar, koq pake nanya sih?? Elo mau jadi mantan gua atau nggak?”

Beni sedang berdiri dengan Sarah di kantin sekolah. Dia berusaha mempraktekkan usul Ardha, yaitu menanyakan kepada seseorang yang dia suka untuk menjadi mantannya. Peristiwa ini hanya berselang tiga hari dari “penembakan” Beni yang pertama.

“Sumpah, Ben, gua bingung ama pertanyaannya, bisa lo perjelas nggak?”

“Aduuh, Sar, gimana, sih? Yaudah, gua jelasin, jadi….”

Beni kemudian bercerita panjang lebar mengenai masalah hak-hak dan kewajiban seorang mantan, dan juga positif serta negatifnya berhubungan dengan cara tersebut.

“Postifnya, elo bukan pacar gua…”, ujar Beni yang kemudian disambut dengan muka ceria oleh Sarah.

“Negatifnya, gua jadi mantan elo…”, lanjut Beni yang diikuti dengan anggukan-anggukan kecil pertanda setuju oleh Sarah.

Sarah tampak berpikir lama sekali, dia menggeleng-geleng, sebentar kemudian dia menggangguk-angguk, kemudian geleng-geleng lagi, angguk-angguk lagi, membuat Beni yang berusaha menatap mata Sarah menjadi pusing dan mual, dan dengan sukses Ben pun muntah di dalam WC setelah sebelumnya meminta izin Sarah untuk pergi ke kamar kecil.

“Gi.. gimana, Sar, elo udah punya jawabannya?”, tanya Beni dengan masih memegangi kepalanya yang masih pusing.

“Elo kenapa, Ben? Sakit?”, tanya Sarah dengan lugunya tanpa memikirkan penderitaan Beni yang sedang mual-mual karena berusaha menatap mata Sarah.

“Ng..nggak koq,, jadi, apa nih jawabannya?”

“Jawaban apa, Ben?”

“Yaaa,, jawaban pertanyaan gua tadi…”

“Pertanyaan yang mana, Ben?”

Perlu dicatat, jurus “melupakan ingatan, membelah malam” ini merupakan salah satu jurus terampuh Sarah dalam menolak laki-laki. Sudah beratus-ratus lelaki yang ditolak Sarah dengan jurus ini, karena dengan jurus ini, dijamin kebanyakan Laki-Laki akan segan untuk bertanya kembali, karena merasa harga diri mereka terlalu tinggi untuk bertanya sampai dua kali, atau ternyata saraf malu mereka sangat sensitif sehingga mereka merasa salah tingkah dan malu untuk bertanya lagi, atau karena mereka sadar kalau mereka tidak ingin mendapatkan wanita seperti Drew Barrymoore dalam film “50 first dates”.

Sayangnya, sebelum kejadian ini terjadi, Beni telah terlebih dahulu mempelajari Sarah dalam menghadapi situasi tembak menembak ini, jadi jurus tersebut sudah diantisipasi oleh Beni.

“Itu lho, Sar, gua tadi nanya, elo mau jadi mantan gua apa, nggak?”, tanya Beni kembali dengan sangaaaat sabar.

“Hah?? Apa?? Maksud lo apaan, Ben??”, Sarah mencoba deja vu

Dan tidak perlu dijelaskan lagi disini, bahwa kejadian itu terjadi berulang-ulang hingga terjadi sebanyak lima puluh kali (hipotesa gua, ternyata Sarah merupakan penggemar fanatik film “50 first dates” sehingga dia sengaja membuat setiap laki-laki yang “menembak” dia untuk bertanya sebanyak lima puluh kali, entah untuk melihat kesungguhan para lelaki tersebut, atau memang dia beneran punya penyakit short term memory loss, yaitu lupa akan hal yang baru saja terjadi, seperti yang dialami Drew Barrymoore dalam film tersebut).

Akhirnya, pada pertanyaan ke lima puluh satu, Sarah tampak berpikir, dan akhirnya memberi jawaban.

“ Iya, Ben, gua mau jadi mantan lo”, Sarah menjawab sembari tersenyum manis sekali.

“YESSS!!!!!”, Beni melompat-lompat senang, dan berteriak-teriak seperti orang gila.

Beni tiba-tiba diam, dan menatap Sarah. Kemudian Sarah balas menatap Benny. Mereka pun saling bertatapan. Keheningan muncul seketika. Beni hanya bisa menelan ludah ketika Sarah mendekatinya perlahan-lahan. ‘Oh, my God, gua bakal ciuman, gua bakal ciuman’, begini mungkin isi otak Beni. Lalu….

PLAKK!!!!!!!!!!! Tamparan keras mendarat di pipi Beni, membuat dia terkejut dan menatap Sarah dengan keheranan sembari mengelus-elus pipinya. Sarah telah menampar Beni.

“Ke..kenapa, Sar? Kok gua ditampar?”, tanya Beni dengan polosnya.

“Heh, Bajingan!! Jangan pernah deketin gua lagi!! Dasar laki-laki nggak bertanggung jawab!!”

Sarah tiba-tiba berteriak dan memaki-maki Beni, membuat Beni semakin kebingungan.

“Elo udah menghamili gua, Ben!! Dan elo kabur begitu aja!! Gua.. gua terpaksa aborsi, Ben…”, Sarah memaki Beni sembari terisak-isak.

“Kap..kapan..??” Beni berkata dengan terbata-bata,

“Selamat tinggal, Ben, jangan temuin gua lagi….”

Setelah berkata begitu, Sarah membalikkan badannya lalu berlari ke luar kantin dengan terisak-isak.. hiks…hiks… gua jadi ikutan sedih…. koq elo tega, ya, Ben??

Kembali Beni terdiam, dan alunan biola kembali mengalun seakan mengerti atas kesedihan yang dirasakan oleh Beni….

Catatan si Beni  :

“ Dha,ternyata jurus yang elo kasih ke gua gagal total, Dha, nggak berhasil sama sekali…”

Catatan si Ardha :

“ Gagal apanya?? Kan dia udah mau jadi mantan lo?? Masalahnya, emang itu cewek punya penyakit jiwa, atau emang karena dia merasa bakal sakit jiwa kalau dia menjalani hari-harinya sebagai mantan lo hehehehe… “

Catatan si Beni  :

“ tapi… “

Catatan si Ardha  :

“Udah lah Ben, sabar aja, nggak usah terburu-buru pengen punya pacar, gua aja santai nih menjomblo…”

Catatan si Beni  :

“ Tapi kan elo udah pernah pacaran, Dha, gua udah sembilan belas tahun belum pernah merasakan rasanya  punya pacar, Dha… Salah gua apa, sih? ”

Catatan si Ardha  :

“Hmm, mungkin standar lo terlalu tinggi, Ben, coba aja diturunin sedikit, Meri dan Sarah kan termasuk top 100 kembang kampus kita, ya wajar aja kalau elo ditolak, gua aja pasti ditolak kalau nembak mereka,karena itu gua tau diri, yang gua deketin cuma cewek yang minimal masuk top 200 di kampus kita, alias peringkat 101 sampai peringkat ke 200…”

Catatan si Beni  :

“ Iya kali, ya?? Menurut lo, peringkat keberapa yang bisa gua deketin ya? ”

Cataatn si Ardha  :

“Coba aja kaya’ gua, lo incer tuh cewek-cewek kampus yang peringkat 101 sampai 200, selama bukan mantan gua, gua nggak akan masalah koq, Ben, hehehehehe…”

Beri Komentar