Biografi dan Sejarah Cleopatra, Ratu Terakhir Mesir Kuno

Biografi dan Sejarah Cleopatra sangat menarik untuk diikuti, terutama dikarenakan banyaknya mistis dan misteri yang menyelimuti kehidupannya.

Siapa yang tidak mengenal Cleopatra?

Cleopatra adalah seorang Pharaoh Mesir yang terkenal akan kecantikannya yang eksotis, dan petualangan romantisnya dengan tokoh besar Romawi kuno seperti Julius Caesar dan Markus Antonius atau lebih dikenal dengan nama Mark Antony yang mana keduanya merupakan Jendral dan Politikus Romawi ternama saat itu.

Karena beberapa hal tersebut, nama Cleopatra menjadi sangat terkenal hingga dirinya diabadikan dalam berbagai bentuk karya seni dan sastra mulai dari Abad Pertengahan, jaman Renaisans, dan bahkan hingga era modern saat ini.

Sosok Cleopatra telah banyak digambarkan dalam koin, seni rupa, musik, lukisan, pementasan teater, tarian, hingga film Hollywood. Cleoptra telah menjadi salah satu ikon bagi Egyptomania (yaitu suatu bentuk entusiasme pada peradaban Mesir kuno).

Penulis terkenal William Shakespeare bahkan telah mengabadikan kisah percintaan Cleopatra dengan Mark Antony dalam pentas teater yang berjudul ‘Antony and Cleopatra’, yang terinspirasi dari tulisan milik seorang filsuf Yunani kuno bernama Plutarch.

Hingga sampai di zaman modern, cerita mengenai Cleopatra telah diangkat ke dalam beberapa film:

Mulai dari tahun 1945, The British Technicolor film membuat film mengenai Cleopatra yang berjudul ‘Caesar and Cleopatra’.

Kemudian terdapat drama sejarah yang berjudul ‘A Queen for Caesar’ besutan dua orang pembuat film berdarah Italia-Perancis dan Rusia, yaitu Piero Pierotti dan Victor Tourjansky pada tahun 1962.

Tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1963, Hollywood mengangkat cerita mengenai Cleopatra dalam film berjudul ‘Cleopatra’ yang diperankan oleh Elizabeth Taylor dan disutradarai oleh Joseph L. Mankiewicz.

Kemudian pada tahun 1972, sutradara Charlton Heston mengangkat Kembali naskah William Shakespeare ke dalam layar kaca, melalui film yang berjudul ‘Antony and Cleopatra’, yang ditulis, disutradarai, dan diperankan oleh Charlton Heston sebagai Mark Antony, dan Hildegarde Neil sebagai Cleopatra.

Bahkan, dikabarkan baru-baru ini Hollywood akan kembali memproduksi film mengenai Cleopatra, dengan Gal Gadot sebagai pemerannya.

Pemberian peran Cleopatra pada Gal Gadot telah menimbulkan banyak kontroversi dan ketidaksetujuan dari banyak penggemar film karena etnisnya yang dianggap masih mewakili ras kulit putih, walaupun sebenarnya Gal Gadot sendiri berasal dari Israel, dimana rasnya masih percampuran antara Timur Tengah dan Afrika.

Pada kenyataannya, belum ada yang mengetahui dengan pasti warna kulit Cleopatra. Tidak ada catatan kontemporer mengenai detail fisik yang dimilikinya, sehingga sulit untuk mengetahui faktanya dengan pasti. Kebanyakan hal yang telah diketahui tentang hidup Cleopatra berasal dari karya dan tulisan cendekiawan Yunani-Romawi, Plutarch yang sama sekali  tidak medeskripsikan fisik Cleopatra.

Namun, terlepas dari berbagai kontroversi mengenai Cleopatra, mulai dari soal  ras dan warna kulit, kisah cinta segitiganya yang penuh drama dan intrik, serta misteri kematian dan kuburannya yang hilang, siapakah sebenarnya Cleopatra ? dan mengapa ia begitu terkenal dan menginspirasi banyak orang untuk menuliskan ceritanya dan juga menggambarkan dirinya serta perjalanan hidupnya?

Pada video kali ini, Asal Jeplak akan menceritakan sejarah mengenai Cleopatra yang dibagi dalam 4 babak:

  1. Asal Usul Cleopatra: Masa Kecil hingga Kepemimpinannya sebagai Pharaoh Mesir
  2. Cleopatra dan Julius Caesar
  3. Cleopatra dan Mark Antony
  4. Kejatuhan dan Misteri Kematian Cleopatra

Siapakah Cleopatra?

Cleopatra merupakan Pharaoh terakhir yang memimpin Mesir Kuno. Nama “Cleopatra” sendiri merupakan nama turun temurun yang ada pada dinasti Ptolemy, yang merupakan dinasti terkakhir yang menguasai Mesir Kuno sebelum akhirnya takluk oleh Romawi.

Cleopatra berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti “glory of her father (Kemenangan Ayahnya)”

Diketahui juga bahwa semua keturunan Dinasti Ptolemy yang berjenis kelamin laki-laki, menggunakan nama Ptolemy, sedangkan yang wanita menggunakan nama Cleopatra.

Cleopatra yang banyak dikenal dan akan kita bahas disini adalah Cleopatra ketujuh, yang memiliki nama lengkap Cleopatra VII Thea Philopator.

Cleopatra VII diperkirakan lahir pada awal tahun 69 SM di Alexandria (alias Al-Iskandariya atau Iskandariyah), yaitu sebuah kota di Mesir Kuno, yang saat ini menjadi kota pelabuhan utama bagi negara Mesir.

Ayahnya adalah seorang Pharaoh alias Fir’aun atau Raja Mesir yang bernama lengkap Ptolemy XII Neos Dionysos Philopator Philadelphos dari Dinasti Ptolemy, atau lebih dikenal dengan nama Ptolemy XII Auletes.

Untuk mengetahui bagaimana Dinasti Ptolemy dapat menjadi pemimpin Mesir, maka kita harus kembali ke sejarah singkat mengenai kakek moyang Cleopatra VII yang bernama Ptolemy.

Sejarah Singkat Dinasti Ptolemy

Ptolemy merupakan 1 dari 7 Jendral dan Deputi Macedonia Yunani yang mengabdi kepada Alexander The Great.

Setelah kematian Alexander The Great pada tahun 323 SM, Ptolemy yang mengubah namanya menjadi Ptolemy I Soter, telah mendapatkan dukungan dari rakyat Mesir sebagai penerus Pharaoh di Kerajaan Mesir Merdeka, sehingga akhirnya keluarga dan keturunannya menjadi satu dinasti yang disebut Dinasti Ptolemy yang secara turun menurun memimpin Mesir hingga tahun 30 SM, sebelum akhirnya Mesir jatuh ke tangan Romawi.

Seabad sejak kepemimpinan Ptolemy I Soter, Dinasti Ptolemy seterusnya dikatakan telah menerapkan praktik pernikahan sedarah alias incest.

Singkat cerita, Ayah Cleopatra VII, yaitu Ptolemy XII Auletes mulai memimpin Mesir pada tahun 80 SM, dan pada saat itu Ptolemy XII Auletes telah menikahi saudaranya sendiri, Tryphaena, yang akhirnya menggunakan nama tradisional Cleopatra, sehingga namanya berubah menjadi Cleopatra V Tryphaena (atau sering disebut juga sebagai Cleopatra VI oleh sejarawan modern).

Dari catatan sejarah, Ptolemy XII Auletes diketahui memiliki 5 anak:

  • Berenice IV
  • Cleopatra VII Thea Philopator
  • Ptolemy XIII Theos Philopator
  • Arsinoe IV
  • Ptolemy XIV

Walaupun dipastikan bahwa kelima anak tersebut adalah benar anak dari Ptolemy XII Auletes, namun Berenice IV adalah satu-satunya anak yang dipastikan merupakan hasil dari pernikahan Ptolemy XII Auletes dan Cleopatra V Tryphaena.

Ptolemy XIII Theos Philopator, Arsinoe IV, dan Ptolemy XIV dikatakan adalah anak hasil hubungan Ptolemy XII Auletes dengan wanita lain yang tidak diketahui.

Sementara, ibu dari Cleopatra VII Thea Philopator masih merupakan misteri; apakah ia adalah anak dari Cleopatra V Tryphaena atau dari wanita lain.

Seorang arkeolog Amerika, penulis, dan profesor Peradaban Klasik, Yunani dan Latin di Ohio State University, Duane W. Roller, berspekulasi bahwa Ibu dari Cleopatra VII bisa jadi adalah seorang wanita yang memiliki keturunan Macedonia-Yunani-Mesir, yang berasal dari keluarga pendeta yang didedikasikan untuk Ptah, Dewa Mesir, dan ” secara teknis merupakan anak tidak sah dari Ptolemy XII Auletes “.

Roller sendiri juga mengatakan bahwa apapun keturunan Cleopatra VII, ia mengakui bahwa Cleopatra VII tetap adalah keturunan Dinasti Ptolemy. Argumennya didasarkan pada tulisan Strabo, yang merupakan seorang filsuf dan sejarahwan Yunani, yang menceritakan tentang Ptolemy XII yang hanya memiliki tiga anak perempuan, dimana hanya Berenice IV yang disebut sebagai satu-satunya anak yang sah.

Namun, pendapat Roller dibantah oleh Michael Grant yang merupakan seorang ahli klasik Inggris, numismatis, dan penulis banyak buku tentang sejarah kuno, yang berpendapat bahwa Cleopatra V Tryphaena adalah benar ibu dari Cleopatra VII. Grant merunut kepada catatan sejarah lainnya, yang menceritakan bahwa Cleopatra V Tryphaena diasingkan dari istana pada tahun 69 SM, beberapa bulan setelah kelahiran Cleopatra VII.

Menurut pendapat Grant, jika memang Cleopatra VII bukan anak dari Cleopatra V Tryphaena, maka bangsa Romawi pasti akan menceritakan soal Cleopatra VII sebagai  anak hasil dari pernikahan tidak sah. Namun, karena tidak ada catatan apa pun mengenai hal tersebut, Grant menyimpulkan bahwa Cleopatra VII adalah benar anak sah dari Ptolemy XII Auletes dan Cleopatra V Tryphaena.

Masa Kecil Cleopatra

Selama masa kanak-kanaknya, Cleopatra VII dibesarkan di istana Alexandria di Mesir dan menerima pendidikan dari gurunya, Philostratos, dimana ia mempelajari holistik, seni orasi, matematika, astronomi, dan filsafat Yunani.

Cleopatra VII sangat suka mengunjungi institusi Musaeum, dimana didalamnya terdapat Perpustakaan Alexandria, dan bahkan Cleopatra disebut telah menulis catatan medis yang mungkin terinspirasi oleh para dokter asal Yunani di istana kerajaan ayahnya.

Cleopatra VII banyak membaca dan sangat terinspirasi oleh beberapa sosok wanita kerajaan yang kuat dan inspiratif dari Kerajaan Mesir Kuno, seperti Sobekneferu, Hatshepsut, dan Nefertiti.

Menjelang dewasa, Cleopatra VII telah fasih dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Mesir Kuno, Ethiopia, Trogodyte, Ibrani, Arab, Syria, Median, Parthian, Latin, dan tentunya bahasa leluhurnya, Yunani Koine.

Kemampuan Cleopatra VII yang dapat berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Mesir Kuno, merupakan prestasi tersendiri karena ia merupakan orang pertama dan satu-satunya Pharaoh dari Dinasti Ptolemy yang dapat menguasai bahasa Mesir Kuno. Para pendahulunya bahkan tidak berbicara bahasa Mesir Kuno sama sekali; mereka hanya berbicara dalam bahasa Yunani Koine.

Kemampuan berbahasanya ini dikatakan sebagai cerminan dari ambisi dan keinginan Cleopatra VII untuk mendapatkan kembali wilayah Afrika dan Asia yang pernah menjadi milik Dinasti Ptolemy.

Berbeda dengan persepsi banyak orang modern saat ini, dimana Cleopatra VII digambarkan sebagai wanita paling cantik yang pernah memerintah Mesir, menurut penemuan artefak yang menggambarkan Cleopatra VII, seperti patung, koin, dan lukisan, sosok Cleopatra VII digambarkan memiliki fitur wajah yang hampir maskulin dan tegas dengan hidung yang besar, bibir kecil, dan dagu tajam, yang hampir mirip dengan sosok ayahnya, Ptolemy XII Auletes.

Namun, beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa Cleopatra VII dengan sengaja menggambarkan dirinya sebagai sosok yang maskulin untuk menampilkan kekuatan dan wibawanya sebagai seorang Pharaoh Mesir.

Sementara Plutarch, yang merupakan filsuf Yunani sekaligus Pendeta dari kuil Apollo, berpendapat dalam catatannya bahwa kecantikan sebenarnya dari Cleopatra VII tidak begitu luar biasa dan tergolong biasa saja.

Namun, Plutarch juga menuliskan bahwa semua orang akan terpesona dengan sosok Cleopatra VII karena aura kehadirannya yang begitu menawan. Perkataan, tutur bahasa, serta suaranya yang lembut dan halus, dapat membuat orang tersihir.

Plutarch juga menyatakan bahwa Cleopatra VII memiliki karisma yang kuat dan letak kecantikan serta  daya tariknya adalah pada kecerdasan otaknya dan pengetahuannya yang luas.

Naiknya Cleopatra sebagai Pharaoh

Pada tahun 52 SM, Ptolemy XII Auletes telah menunjuk Cleopatra VII dan adiknya, Ptolemy XIII Theos Philopator, untuk mengawasi proyek konstruksi kuil dan menstabilkan ekonoMmi Mesir. Di Tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 31 Mei tahun 52 SM, Cleopatra VII diangkat menjadi Regent oleh Ptolemy XII Auletes.

Regent adalah seseorang yang ditunjuk untuk memerintah negara untuk sementara waktu, dikarenakan raja yang berkuasa masih di bawah umur, tidak hadir, turun tahta, tidak berdaya atau wafat, atau tidak mampu untuk menjalankan kekuasaan dan tugas monarki.

Pengangkatan Cleopatra sebagai Regent tersebut tercatat pada sebuah prasasti yang berada di Kuil Hathor di Dendera.

Kemudian pada tahun 51 SM, kurang lebih satu tahun setelah pengangkatan Cleopatra menjadi Regent,  Ptolemy XII Auletes wafat, dan menyerahkan kekuasaan kerajaan Mesir di tangan Cleopatra VII dan Ptolemy XIII, yang menunjuk seorang kasim bernama Pothinus untuk bertindak sebagai wali bagi Ptolemy XIII, karena Ptolemy XIII masih belum cukup umur.

Pada saat Ptolemy XII Auletes wafat, Ptolemy XIII masih berumur sekitar 10-11 tahun, dan Cleopatra VII telah berumur 18 tahun.

Banyak ahli sejarah berpendapat bahwa tradisi Dinasti Ptolemy yang mensahkan pernikahan dengan saudara kandung sendiri, mengatakan bahwa Cleopatra VII telah menikah dengan Ptolemy XIII pada saat mereka memegang kekuasaan, tetapi tidak ada catatan yang pasti mengenai hal ini.

Kepemimpinan Cleopatra VII

Menurut dokumen resmi yang ditemukan oleh arkeolog, menyatakan bahwa pada tanggal 29 Agustus tahun 51 SM, Cleopatra VII disebut sebagai satu-satunya Pharaoh Mesir, dan dokumen tersebut tidak mengakui pembagian kekuasaan dengan adiknya, Ptolemy XIII, dimana hal ini akan menjadi masalah nantinya.

Pada awal menjadi Pharaoh, Cleopatra VII dihadapkan dengan banyak masalah dalam negeri, seperti:

  • Menanggung hutang pinjaman ayahnya dari Bankir Romawi, Gaius Rabirius Postumus yang berjumlah sebesar 17.5 juta drachma,
  • Kelaparan para penduduk Mesir akibat banjir sungai Nil,
  • Kerusuhan yang diciptakan oleh Gabiniani, yang merupakan kelompok mantan tentara Romawi yang tadinya dikirim untuk membantu Ptolemy XII Auletes naik sebagai Raja, yang setelah kematiannya malah berseteru dengan Cleopatra VII akibat perbedaan masalah politik dengan Romawi,
  • Kemudian yang terakhir adalah perebutan kekuasaan dengan adiknya Ptolemy XIII yang telah mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang berpengaruh seperti:

– Walinya: kasim Potheinos

– Komandan Militer Mesir: Achillas

– Tutornya: Theodotus of Chios

– Kelompok Gabiniani yang memiliki anggota sekitar 2000 lebih

Terlepas dari permasalahan yang ada, masa awal kekuasaan Cleopatra VII sebagai Pharaoh terbilang sukses, dimana Cleopatra VII dapat menghasilkan kekayaan gabungan dari pendapatan pajak dan perdagangan luar negeri hingga 12.000 talent. Talent sendiri merupakan penghitungan berat terhadap mata uang pada saat itu, kira-kira 1 talent kurang lebih setara dengan 30kg pada saat ini.

Pencapaian pendapatan negara tersebut diyakini telah melebihi pencapaian kekayaan yang sanggup didapatkan oleh beberapa pendahulunya.

Namun, hal tersebut ternyata tidak dapat membuatnya mempertahankan kekuasaannya sebagai Pharaoh, terutama perseteruannya dengan kelompok Gabiniani, yang disebut-sebut merupakan sumber utama permasalahan yang menyebabkan Cleopatra VII kehilangan kekuasaannya.

Ptolemy XIII dengan 3 orang penasihat kepercayaanya, ditambah dengan dukungan dari kelompok Gabiniani, akhirnya berhasil memaksa Cleopatra VII mundur dan melarikan diri ke Syria.

Ptolemy XIII yang berhasil mengusir Cleopatra VII, akhirnya mendeklarasikan dirinya sebagai Pharaoh pada tahun 49 SM.

Tidak terima dengan kekalahannya, Cleopatra VII tidak gentar dan mulai mengumpulkan pasukannya sendiri, sehingga akhirnya dimulailah perang saudara antara Cleopatra VII dan Ptolemy XIII di Pelusium, perbatasan timur Mesir.

Pertemuan Cleopatra VII dengan Julius Caesar

Pada saat berlangsungnya perang saudara di Mesir tersebut, tepatnya pada tahun 48 SM, seorang Jendral dan Politikus Romawi yang sedang dikejar Julius Caesar karena kalah dalam Battle of Pharsalus, yang bernama Gnaeus Pompey Magnus atau lebih terkenal dengan sebutan Pompey the Great, melarikan diri ke Mesir mencari perlindungan pada Ptolemy XIII.

Ketiga penasihat Ptolemy XIII mengadakan pertemuan sesaat setelah mereka menerima surat pemberitahuan kedatangan Pompey ke Mesir. Ketiganya akhirnya memutuskan untuk membunuh Pompey dengan cara memenggal kepalanya, dan membuang tubuhnya ke laut. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga hubungan baik dengan Romawi, terutama dengan Julius Caesar.

Beberapa hari setelah kematian Pompey, Julius Caesar beserta dengan sejumlah kecil pasukan Romawi tiba di Alexandria. Setibanya di istana, Ptolemy XIII mempersembahkan kepala Pompey ke hadapan Julius Caesar.

Diluar dugaan Ptolemy XIII dan para penasihatnya, Julius Caesar sangat marah dan kecewa atas hal tersebut, dikarenakan Pompey, walaupun dianggap sebagai musuh Romawi, dulunya merupakan teman dekat sekaligus menantu Julius Caesar.

Kematian Pompey ini merupakan titik balik kerjasama antara Kerajaan Mesir dan Republik Romawi. Julius Caesar yang pada saat itu sedang mengalami masalah politik dan ditentang oleh senat Romawi (DPR dari Republik Romawi saat itu), mulai mengancam akan mengadili pembunuh Pompey yang merupakan para penasihat Ptolemy XIII.

Julius Caesar juga menagih hutang Ptolemy XII Auletes yang berjumlah 6000 talent atau sekitar 17.5 juta drachmas.

Tentunya banyak pertentangan dari anggota kerajaan Ptolemy XIII, walaupun tidak secara terang-terangan. Diceritakan Plutarch, Cleopatra VII mengambil kesempatan tersebut untuk secara diam-diam bertemu dengan Julius Caesar dengan cara menyembunyikan diri di dalam gulungan karpet yang diantarkan ke kamar Julius Caesar, dan kemudian menampakkan dirinya ketika karpet dihamparkan.

Sejarahwan Romawi Cassius Dio menuliskan bahwa Cleopatra VII datang ke istana Ptolemy XIII tanpa pemberitahuan sebelumnya, berpakaian indah dan menarik, dan membuat Julius Caesar terpesona dengan kecerdasan dan keterampilan bahasanya.

Pendapat lain mengatakan bahwa Cleopatra masuk ke dalam istana dengan menggunakan cadar, dan menyamar menjadi anggota kerajaan Ptolemy XIII, untuk kemudian berhasil masuk ke dalam kamar Julius Caesar. Tentunya pendapat ini lebih banyak dipercaya dibandingkan dengan kisah dramatis yang dituliskan oleh Plutarch atau Cassius Dio yang diragukan kebenarannya akibat pertentangannya dengan Julius Caesar.

Terlepas dari bagaimana cara mereka bertemu, Julius Caesar diceritakan sangat terpesona pada sosok Cleopatra VII yang menawan, dan tak lama mereka telah menjadi sepasang kekasih, dengan perbedaan umur hampir 30 tahun; dimana Julius Caesar pada saat itu berumur 52 tahun, sementara Cleopatra berumur 21 tahun.

Posisi tidak menguntungkan Julius Caesar yang tidak populer di kalangan senat Romawi, kematian Pompey, dan hubungan istimewanya dengan Cleopatra VII, akhirnya menciptakan segelintir kejadian yang mengubah kahidupan Julius Caesar dan Cleopatra VII ke depannya.

Pertama-tama Julius Caesar bersekutu dengan Cleopatra VII untuk merebut kembali kerajaan Mesir dari Ptolemy XIII. Menurut pengamat Sejarah, tindakan Julius Caesar yang lebih memilih untuk bersekutu dengan Cleopatra VII adalah karena pembunuhan Pompey yang dilakukan Ptolemy XIII.

Selain itu, hubungan Julius Caesar dan Cleopatra VII juga tidak murni hubungan percintaan antara dua manusia, namun ada unsur politik di dalamnya. Masing-masing bertujuan untuk memanfaatkan yang lainnya.

Cleopatra VII menyadari bahwa ia membutuhkan dukungan Romawi, atau, lebih khusus lagi, dukungan Julius Caesar, jika ingin mendapatkan kembali tahtanya, dan memulihkan sebanyak mungkin wilayah kekuasaan Mesir, yang meliputi Syria Selatan dan Palestina.

Sementara, Julius Caesar membutuhkan Cleoptara VII untuk melunasi hutang ayah Cleopatra, Ptolemy XII Auletes, untuk ia bawa ke kembali ke Romawi sebagai persembahan kemenangan untuk rakyat Romawi.

Ketika Ptolemy XIII menyadari bahwa saudara perempuannya tersebut berada di istananya bersama dengan Julius Caesar, dan bukannya di markas Cleopatra di Pelousion, ia mencoba untuk memprovokasi penduduk Alexandria untuk melakukan kerusuhan.

Julius Caesar yang mengetahui rencana Ptolemy XIII akhirnya menangkapnya, kemudian Julius Caesar menggunakan keterampilannya berpidato untuk menenangkan kerumunan massa yang telah berkumpul di luar istana.

Setelah itu, Caesar kemudian membawa Cleopatra VII dan Ptolemy XIII ke hadapan majelis Alexandria. Di sini ia mengungkapkan isi surat wasiat Ptolemy XII, yang sebelumnya berada di tangan Pompey, yang isinya menyebutkan bahwa Cleopatra VII dan Ptolemy XIII adalah pemimpin bersama Mesir.

Julius Caesar juga berusaha mengatur dua saudara kandung Cleopatra VII lainnya; Arsinoe IV dan Ptolemy XIV, untuk menjadi pemimpin Cyprus.

Pengaturan Julius Caesar ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan munculnya calon pesaing takhta Mesir yang dapat mengancam posisi Cleopatra VII, sekaligus mengambil hati rakyat Mesir yang masih merasa getir atas jatuhnya Cyprus ke tangan Romawi pada tahun 58 SM.

Namun, keputusan Julius Caesar ini tentunya tidak dapat diterima oleh segelintir orang berkepentingan yang lebih memilih Ptolemy XIII sebagai Pharaoh tunggal Mesir. Penolakan tersebut mengakibatkan terjadinya The Siege of Alexandria atau Pengepungan Alexandria.

Pengepungan Alexandria merupakan serangkaian pertempuran kecil yang terjadi antara pasukan Julius Caesar, Cleopatra VII, Arsinoe IV, dan Ptolemy XIII, pada tahun 48 hingga 47 SM.

Perang ini akhirnya berhasil dimenangkan oleh pasukan gabungan Julius Caesar dan Cleopatra VII, dimana kerjasama mereka yang cerdik berhasil menggagalkan serangan pasukan Ptolemy XIII dan Arsinoe IV.

Dalam perang ini, Ptolemy XIII yang melarikan diri dengan menaiki kapal untuk menyebrang sungai Nil, akhirnya ditemukan tewas tenggelam. Cleopatra VII akhirnya berhasil mempertahan tahtanya, dan kembali memerintah Mesir bersama dengan adiknya yang paling kecil Ptolemy XIV yang saat itu berumur 12 tahun, dimana Julius Caesar akhirnya menikahkan Cleopatra VII dan Ptolemy XIV.

Terlepas dari pernikahan dengan adiknya, diceritakan bahwa Cleopatra VII tinggal bersama Julius Caesar selama kunjungan Julius Caesar di Mesir.

Pada waktu Julius Caesar tinggal di Mesir, Sejarawan Romawi Suetonius mengatakan bahwa Julius Caesar dan Cleopatra VII melewatkan waktu romantis bersama dengan melakukan pelayaran di Sungai Nil dan menikmati kemegahan kota Mesir. Walaupun banyak yang menyangsikan kebenaran sejarahnya mengingat banyaknya fiksi yang berkembang di Romawi nantinya, namun tulisan Suetonius cukup detail menggambarkan perjalanan tersebut.

Setelah itu, Julius Caesar berangkat ke Timur Tengah, dan mengalahkan Pharnaces II of Pontus dengan mudah, yang merupakan musuh Romawi. Kemudian, Julius Caesar melanjutkan perjalanan ke Afrika dan berhasil mengalahkan para pendukung dan simpatisan Pompey.

Pada tahun 46 SM, Julius Caesar kembali ke Romawi dengan membawa banyak hal, mulai dari kemenangan atas pasukan Pompey, uang hasil hutang Ptolemy XII Auletes yang dibayarkan Cleopatra, dan memparadekan adik Cleopatara VII, Arsinoe IV, sebagai tawanan perang di hadapan rakyat Romawi. Arsione IV akhirnya diasingkan ke Kuil Artemis di Ephesus yang berada di Yunani.

Karena kemenangan besarnya tersebut, Julius Caesar diangkat kembali sebagai diktator Romawi dengan masa pemerintahan 10 tahun. Kembalinya Julius Caesar ke Romawi tidak didampingi oleh Cleopatra VII, dimana banyak ahli sejarah berspekulasi bahwa pada saat itu Cleopatra VII sedang mengandung anak Julius Caesar, yang diberi nama Ptolemy XV Caesar atau Caesarion, nama yang diberikan oleh rakyat Alexandria yang memiliki arti Little Caesar atau Caesar Kecil.

Pada akhir tahun 46 SM, Cleopatra VII bersama dengan Ptolemy XIV berangkat menuju Romawi untuk bertemu dengan Julius Caesar dan mengabarkan mengenai anak laki-lakinya Caesarion.

Namun, kebahagiaan Julius Caesar akan anak laki-lakinya hanya dapat ditunjukkan secara rahasia dan Julius Caesar pun tidak dapat mengakui Caesarion sebagai anak dan penerus tahta kekaisaran Romawi yang sah secara terbuka.

Alasannya adalah karena Julius Caesar sebelumnya telah memiliki istri, dan hukum di Romawi tidak mengenal dan menyetujui pernikahan orang Romawi dengan orang asing (diluar bangsa Romawi). Karena hal inilah Julius Caesar mulai melakukan investigasi dan mencari celah untuk dapat mengakui Caesarion sebagai pewarisnya, karena ia hingga saat itu belum memiliki anak dari istrinya. Namun usahanya tidak membuahkan hasil.

Selama tinggal di Romawi, Cleopatra VII dan Ptolemy XIV diberikan status sebagai “Teman dan Sekutu Bangsa Romawi”, dan ditempatkan di Janiculum Hill yang merupakan vila mewah milik Julius Caesar. Sementara Julius Caesar tetap tinggal di istana dengan Calpurnia, istrinya.

Lama kelamaan banyak yang mengetahui bahwa Cleopatra VII adalah mistress atau wanita simpanan dari Julius Caesar. Pada saat itu, ini bukanlah hal yang buruk karena tidak ada hukum yang melarang soal itu, sehingga Cleopatra VII cukup populer di kalangan teman-teman Julius Caesar, termasuk Mark Antony.

Pada tahun yang sama, Julius Caesar membangun Patung Cleopatra VII yang terbuat dari emas dalam wujud Dewi Isis, di dalam kuil yang dibangunnya untuk Dewi Venus Genetrix. Walaupun menempatkan seseorang dalam wujud dewa dewi merupakan hal yang cukup lumrah di Mesir, namun tidak begitu halnya di Romawi.

Para penduduk Romawi tidak menyukai penempatan Patung Cleopatra VII dalam bentuk Dewi Isis karena hal tersebut seolah menggambarkan bahwa Cleopatra VII memiliki otoritas ketuhanan.

Ditambah dengan kenyataan bahwa Dewi Venus Genetrix merupakan Dewi Pernikahan dan penggambaran sebagai sosok ibu dari keturunan Julian, maka pembangunan patung tersebut seakan mengindikasikan niat Julius Caesar untuk mendeklarasikan hubungan istimewanya dengan Cleopatra VII, dan pengakuan tidak langsung atas Caesarion sebagai anaknya.

Setelah itu, Cleopatra VII juga memiliki andil dalam membantu Julius Caesar membangun kalender baru yang diberi nama Julian Calendar yang mulai digunakan tepat pada tanggal 1 Januari 45 SM. Julian Calendar merupakan cikal bakal perhitungan hari dan kalender yang kita gunakan hingga saat ini, setelah melewati berbagai alterasi.

Kemudian serangkaian kejadian pun bermunculan setelahnya seperti:

  • Semakin tingginya tingkat kebencian senat terhadap Julius Caesar akibat hubungannya dengan Cleopatra VII yang secara terang-terangan mengkhianati Calpurnia, istri Julius Caesar yang juga merupakan putri dari keluarga Romawi terkemuka.
  • Kemudian timbulnya kebencian Marcus Tullius Cicero, yang merupakan negarawan dan sosok besar dibalik perubahan Romawi dari Republik menjadi Kekaisaran, terhadap Cleopatra VII, di mana Cicero berpendapat bahwa wanita secara intelektual lemah dan harus selalu di bawah kekuasaan pria. Kekuatan dan intelektualitas Cleopatra VII dalam menyampaikan pendapatnya membuat Cicero sangat prihatin akan pengaruh Cleopatra atas Julius Caesar. Terutama setelah ia mendengar rumor yang mulai beredar bahwa Julius Caesar berencana untuk memindahkan ibu kota Romawi ke Alexandria.
  • Beberapa kebijakan politik Julius Caesar yang tidak populer, beberapa peperangan yang masih dihadapinya, dan pengangkatan dirinya sebagai Diktator Romawi seumur hidup oleh dirinya sendiri, juga menambah kebencian dari senat dan ketidakpopulerannya di mata masyarakat Romawi .

Karena beberapa alasan tersebutlah akhirnya pada tanggal 15 Maret tahun 44 SM, Julius Caesar akhirnya tewas dibunuh oleh para anggota senat Romawi, dengan cara ditusuk beramai-ramai oleh sekitar 60 orang partisipan, dengan luka tusukan sebanyak 23 kali.

Sebulan setelah pembunuhan Julius Caesar, Cleopatra VII masih terlihat berada di Romawi dengan harapan bahwa Caesarion diakui sebagai anak Julius Caesar, dan karenanya harus diakui sebagai pewaris sah dari penguasa Romawi.

Namun, setelah mengetahui bahwa Julius Caesar sebelumnya telah menunjuk keponakannya, Gaius Octavius (yang nantinya dikenal dengan nama Octavianus Augustus), sebagai pewarisnya, dan mengetahui bahwa harapannya sia-sia, maka kemudian Cleopatra VII memutuskan untuk kembali ke Alexandria, bertepatan dengan kedatangan Octavianus ke Romawi.

Cleopatra VII dan Mark Antony

Setelah kembali ke Mesir, beberapa bulan setelahnya, adik sekaligus suami Cleopatra VII, Ptolemy XIV, ditemukan tewas akibat diracun. Walaupun belum ada bukti yang pasti, diduga Cleopatra VII telah memberikan perintah untuk membunuh Ptolemy XIV. Hal itu sepertinya ia lakukan untuk memastikan kekuasaan Mesir selanjutnya akan dipegang oleh putranya, Caesarion.

Proyek-proyek pembangunan pun mulai berjalan lagi di Mesir pada saat itu, namun serangkaian banjir besar yang terjadi pada tahun 43-41 SM, menimbulkan permasalahan seperti kelaparan dan penyakit. Hal ini menimbulkan spekulasi masyarakat Mesir akan kemarahan Dewa.

Cleopatra VII mengambil langkah untuk memastikan bahwa Dewi Sekhmet (yang dikenal sebagai Dewi pelindung para prajurit dan juga dewi Kesembuhan) ditenangkan, dan ia tampaknya berhasil mengatasi permasalahan tersebut.

Pada tahun 43 SM di Romawi, Octavianus, Mark Antony, dan Marcus Aemilius Lepidus membentuk Triumvirat Kedua, di mana mereka masing-masing telah memenangkan pemilihan untuk menjabat selama lima tahun di dalam senat, dan memiliki tugas untuk memulihkan ketertiban di Republik dan membawa pembunuh Julius Caesar ke pengadilan.

Pada saat itu, Cleopatra VII menerima dua buah pesan. Yang pertama dari Gaius Cassius Longinus, salah satu pembunuh Julius Caesar, dan yang kedua dari Publius Cornelius Dolabella, prokonsul Syria dan loyalis Caesarian, keduanya sama-sama menulis ke Cleopatra VII untuk meminta bantuan militer.

Cleopatra VII menolak permintaan Cassius dengan alasan bahwa kerajaannya saat ini sedang menghadapi terlalu banyak masalah internal. Namun, Cleopatra VII menerima permintaan Dolabella, dan mengirim empat legiun tentara yang ditinggalkan oleh Julius Caesar di Mesir untuk membantu Dolabella.

Namun, pasukan yang dikirim Cleopatra VII untuk Dolabella ini ditangkap oleh Cassius di Palestina. Sementara Serapion, gubernur Cleopatra VII yang ditempatkan di Cyprus, membelot ke Cassius dan memberi pasukannya kapal.

Akhirnya, Cleopatra VII membawa armadanya sendiri ke Yunani untuk membantu Octavianus dan Mark Antony secara pribadi, walaupun kedatangannya untuk membantu pertempuran terlambat akibat kerusakan kapalnya yang parah, yang disebabkan oleh badai Mediterania.

Pada musim gugur tahun 42 SM, Mark Antony telah berhasil mengalahkan para pasukan pembunuh Julius Caesar di Pertempuran Filipi di Yunani, dimana akhirnya Cassius dan Brutus, yang merupakan dua nama terkenal dari para pembunuh Julius Caesar, akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Pada akhir tahun 42 SM, Octavianus telah berhasil menguasai sebagian besar Republik Romawi bagian barat, semetara Mark Antony menguasai bagian timur, dan Lepidus menguasai sisanya.

Pada musim panas 41 SM, Mark Antony memutuskan untuk menyerang Parthia dan mendirikan markas besarnya di Tarsos, Anatolia (Turki saat ini), dan ia mulai menulis beberapa surat kepada Cleopatra VII untuk mengunjunginya, sekaligus meminta dukungan finansial dan militer untuk menginvasi Parthia.

Cleopatra VII terus menolak permintaan Mark Antony, sampai akhirnya Mark Antony mengirimkan utusannya yang bernama Antony Quintus Dellius untuk meyakinkan Cleopatra VII agar datang mengunjunginya.

Pertemuan tersebut dibuat dengan tujuan agar Cleopatra VII dapat menjernihkan kesalahpahaman bahwa dia telah mendukung Cassius selama perang saudara yang terjadi di Romawi, dan membahas pertukaran teritorial di Levant.

Selain urusan kenegaraan, Mark Antony juga ternyata memiliki tujuan pribadi yaitu bahwa ia ingin membentuk hubungan romantis dengan Cleopatra VII.

Dalam pertemuan tersebut, Cleopatra VII berhasil membersihkan namanya dan meyakinkan Mark Antony bahwa ia bukanlah pendukung Cassius, dan bahwa tentara yang dikirim ke Dolabella telah ditangkap oleh Pihak Cassius.

Cleopatra VII melakukan semua hal itu dalam dua pertemuan, dimana ia mengajak Mark Antony untuk berlayar menyusuri Sungai Kydnos menuju Tarsos, dan menjamu Antony sekaligus para perwiranya dengan jamuan makan mewah di atas kapal.

Dalam pertemuan tersebut rupanya Cleopatra VII juga berhasil membujuk Mark Antony agar saudara perempuannya yang diasingkan ke kuil Artemis di Efesus, Arsinoe IV, dan mantan gubernur Cyprus, Serapion yang memberontak, untuk dieksekusi.

Mark Antony yang diceritakan sangat terpesona dengan Cleopatra VII segera melupakan tujuannya untuk menginvasi Parthia, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Alexandria mengikuti Cleopatra VII.

Mark Antony rupanya cukup populer dan disukai oleh para penduduk Alexandria; Selain karena tindakan heroiknya dalam membantu mengembalikan tahta kepada ayah Cleopatra VII, Ptolemy XII Auletes, kedatangannya ke Mesir tanpa pasukan seperti yang dilakukan Caesar, membuat Mark Antony diterima dengan tangan terbuka oleh rakyak Alexandria.

Di Mesir, Mark Antony dapat menikmati gaya hidup kerajaan Mesir yang mewah, dan sebagai gantinya ia juga menyuruh bawahannya, seperti Publius Ventidius Bassus, mengusir sebagian kecil pasukan Parthia dari Anatolia dan Syria.

Pada titik ini Cleopatra VII akhirnya memutuskan untuk memilih Mark Antony sebagai pasangan hidupnya untuk menghasilkan ahli waris kerajaan Mesir dan Romawi.

Cleopatra VII beranggapan bahwa pada saat itu Mark Antony merupakan tokoh Romawi yang paling kuat setelah kematian Julius Caesar. Dengan kekuatannya sebagai salah seorang anggota triumvir, Mark Antony juga memiliki kewenangan luas untuk mengembalikan tanah bekas milik Dinasti Ptolemy, yang saat ini berada di tangan Romawi, untuk kembali ke tangan Cleopatra VII.

Perkiraan Cleopatra VII terbukti dengan kembalinya Cicilia dan Cyprus ke dalam pemerintahan kerajaan Mesir pada sekitar tahun 41-40 SM.

Pada tahun 41 SM, Mark Anthony mendengar berita bahwa istrinya, Fulvia, yang merupakan wanita paling berpengaruh di Romawi pada saat itu karena mampu menyetir politik di Romawi, mengalami perseteruan dengan Octavianus.

Hal tersebut terjadi ketika Octavianus mulai membagikan tanah kepada para tentara veteran yang pernah menjadi bawahan Julius Caesar, menceraikan istrinya yang merupakan anak perempuan Fulvia dari mantan suaminya, menyebarkan propaganda politik mengenai Mark Antony, dan menuduh Fulvia mengincar kekuasaan tertinggi di Romawi.

Khawatir Octavianus akan mendapatkan kesetiaan dari para veteran, Fulvia terus-menerus bepergian dengan anak-anaknya untuk mengunjungi dan mengingatkan para veteran tentang hutang mereka kepada Mark Antony.

Dengan posisi Octavianus di Italia dan Antony di Alexandria, Fulvia bersekutu dengan saudara iparnya yang merupakan adik Mark Antony, yang bernama Lucius Antonius, untuk secara terbuka mendeklarasikan oposisi Mark Antony terhadap Octavianus.

Tindakan ini menyebabkan keresahan politik dan sosial, dimana ketegangan antara Octavianus dan Fulvia meningkat menjadi perang di Italia yang dikenal sebagai Perang Perusine.

Pada saat yang sama, pada musim semi tahun 40 SM, Antony meninggalkan Mesir karena timbulnya masalah di Syria, dimana gubernurnya, Lucius Decidius Saxa, terbunuh dan pasukannya diambil oleh Quintus Labienus, mantan perwira di bawah pimpinan Cassius dan Brutus yang sekarang telah mengabdi pada Kekaisaran Parthia sejak kematian Cassius dan Brutus.

Cleopatra VII mendukung perang Mark Antony dengan mengirimkan 200 kapal sebagai bentuk terima kasih atas pemberian wilayah yang kembali diperolehnya.

Namun, ketika Mark Antony mendengar bahwa istri dan adiknya berperang dengan Octavianus, dimana akhirnya Octavianus memenangkan perang yang berlangsung selama dua bulan tersebut, Mark Antony langsung membatalkan perjalanannya ke Syria untuk mengamankan posisinya di Romawi.

Ia bertolak menuju Athena dimana istrinya, Fulvia diceritakan langsung melarikan diri setelah kekalahannya pada Octavianus. Diceritakan bahwa Mark Antony sangat kecewa dengan keterlibatan Fulvia dalam peperangan melawan Octavianus tersebut.

Mark Antony akhirnya memutuskan untuk menghadapi Octavianus yang berada di Italia. Italia sendiri merupakan daerah kekuasaan Mark Antony, namun, akibat kematian gubernurnya dan absennya Mark Antony tersebut, akhirnya Italia diambil alih oleh Octavianus untuk memperluasan kekuasaan daerah barat yang dimilikinya.

Dalam perjalanan Mark Antony menuju Romawi, Fulvia meninggal karena penyakit yang tidak diketahui di pengasingan di Sicyon, dekat Corinth, Achaea. Mark Antony dan Octavianus yang akhirnya bertemu kemudian sepakat menggunakan kematian Fulvia sebagai kesempatan untuk menyalahkan perang saudara yang terjadi, dengan menunjuk Fulvia sebagai biang keladi dari peperangan tersebut.

Setelah kematian Fulvia, Mark Antony menikahi adik Octavianus, Octavia Minor, untuk secara terbuka menunjukkan rekonsiliasi dengan Oktavianus. Namun, Mark Antony tidak pernah mendapatkan kembali posisi dan pengaruhnya di Italia.

Sementara di Mesir, pada akhir 40 SM, Cleopatra VII telah melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki bernama Alexander Helios dan seorang anak perempuan  bernama Cleopatra Selene II, yang keduanya diakui oleh Mark Antony sebagai anak-anaknya.

Namun, menurut catatan sejarah, setelah kepergian Mark Antony ke Romawi, Cleopatra VII dan anak-anaknya tidak dapat bertemu dengan Mark Antony sampai pada tahun 37 SM.

Setelah kelahiran anak-anaknya, Cleopatra VII menerima kedatangan Raja Herod dari kerajaan Judea di Alexandria sebagai tamu tak terduga dan pengungsi yang melarikan diri dari situasi yang bergejolak di Judea.

Herod telah dilantik sebagai raja Judea oleh Antony, tetapi dia segera berselisih dengan Antigonus II Mattathias dari dinasti Hasmonean yang termasyur di Judea.

Pada saat itu Cleopatra VII menawarkan bantuan militer pada Herod yang ditolaknya. Herod lebih memilih untuk pergi ke Romawi dan meminta bantuan pada Octavianus dan Mark Antony. Akibat tindakannya ini, Herod akhirnya berselisih dengan Cleopatra VII yang sebenarnya memiliki ambisi untuk mengambil wilayah Judea di bawah kekuasaan kerajaan Mesir.

Hubungan antara Mark Antony dan Cleopatra VII menjadi buruk ketika ia akhirnya mengetahui pernikahan Mark Antony dengan Octavia, dan memindahkan markasnya dari Mesir ke Athena.

Sementara itu, Herod terlibat dalam perang saudara di Judea, dimana ia membutuhkan banyak bantuan militer dari Romawi, namun tidak dari Mesir.

Sejak otoritas Mark Antony dan Octavianus sebagai triumvirat berakhir pada 1 Januari 37 SM, Octavia,, istri Mark Antony dan adik dari Oktavianus, mengatur pertemuan di Tarentum, di mana triumvirat  secara resmi diperpanjang hingga 33 SM.

Dengan dua legiun pasukan yang diberikan oleh Octavianus dan seribu tentara yang dipinjamkan oleh Octavia, Antony kemudian pergi ke Antiokhia, di mana dia membuat persiapan untuk perang melawan Parthia.

Mark Antony memanggil Cleopatra VII ke Antiokhia untuk membahas masalah-masalah mendesak, seperti peperangan Herod terhadap wilayah Judea dan dukungan finansial untuk kampanye perang Parthia nya.

Cleopatra VII setuju untuk datang dan membawa anak kembarnya yang sekarang berusia tiga tahun ke Antiokhia, di mana Antony melihat mereka untuk pertama kalinya. Hal ini diduga merupakan titik awal dimana Mark Antony lebih memilih untuk bersama dengan Cleopatra VII dan bukan dengan istrinya Octavia.

Mark Antony sangat berambisi untuk memperluas wilayah kekuasaan Cleopatra VII, bahkan ia juga berencana mendirikan dinasti baru yang berkuasa di Mesir.

Dalam persetujuan ini, Cleopatra VII akhirnya memperoleh bekas wilayah kekuasaan Mesir yang signifikan di Levant, termasuk hampir semua Fenisia (Lebanon) kecuali Tirus dan Sidon, yang tetap berada di tangan Romawi.

Selain itu, Mark Antony juga memberikan Cleopatra VII:

  • Ptolemais Akko (sekarang Acre, Israel), yang merupakan sebuah kota yang didirikan oleh Ptolemy II.
  • Coele-Syria di sepanjang hulu Sungai Orontes, dengan alasan hubungan leluhur Cleopatra VII dengan Seleucids.
  • Jericho di Palestina, meskipun Cleopatra kemudian menyewakan wilayah ini kembali kepada Herod.
  • Sebagian dari Kerajaan Nabataean di sekitar Teluk Aqaba di Laut Merah.
  • Pelabuhan Ailana (Aqaba modern, Yordania).
  • Kota Kirene di sepanjang pantai Libya.
  • Provinsi Itanos dan Olous di Pulau Kreta, Yunani.

Meskipun masih dikelola oleh pejabat Romawi, wilayah-wilayah ini tetap memperkaya kerajaan Mesir dan menuntun Mark Antony untuk mengumumkan peresmian era baru kerajaan Mesir.

Awal Kejatuhan Cleopatra VII

Akibat dari perluasan wilayah kekuasaan kerajaan Mesir yang didukung oleh Mark Antony dengan mengurangi wilayah kekuasaan Romawi, Octavianus mulai menyerang Mark Antony di Romawi secara politik untuk mengangkat dirinya ke tampuk kekuasaan.

Octavianus berargumen bahwa Mark Antony adalah seorang pria dengan moral rendah yang meninggalkan istrinya, yang merupakan adik kandung Octavianus, dan anak-anaknya di Romawi, hanya demi untuk bersama dengan Cleopatra VII dan berkhianat terhadap Romawi.

Namun, tuduhan yang paling berat dan tak termaafkan bagi orang Romawi yang memiliki harga diri tinggi, adalah bahwa Mark Antony  telah menjadi bagian dari bangsa Mesir.

Atas dasar tuduhan-tuduhan tersebut, Mark Antony telah beberapa kali dipanggil untuk kembali ke Romawi, namun ia tak menggubrisnya dan tetap tinggal di Alexandria bersama Cleopatra VII.

Pada tahun 37 SM, Mark Antony menginvasi Armenia dan membawa pulang kemenangan untuk Mesir, yang disambut dengan perayaan meriah di Alexandria. Sebagai acara puncak, Mark Antony mengumumkan ke seluruh Alexandria bahwa ia menyudahi aliansinya dengan Octavianus.

Tahun berikutnya, Cleopatra VII melahirkan anak ketiganya dari Mark Antony yang diberi nama Ptolemy Philadelphus.

Setelah itu, Mark Antony dan Cleopatra VII membagi-bagikan wilayah kerajaan kepada anak-anaknya;

  • Alexander Helios dinobatkan sebagai raja Armenia, Media dan Parthia (wilayah yang sebagian besar tidak berada di bawah kendali Romawi).
  • Cleopatra Selene mendapatkan Cyrenaica dan Libya.
  • Ptolemy Philadelphus dianugerahi Syria dan Cicilia.
  • Ptolemeus XV Caesar atau Caesarion, putra Cleopatra dengan Julius Caesar, memproklamasikan diri sebagai Raja dari Semua Raja dan ibunya Cleopatra VII adalah Ratu dari Semua Raja, dan bersama mereka memerintah kerajaan Mesir.

Proklamasi Cleopatra VII dan Caesarion ini dilaporkan Mark Antony ke Romawi untuk meminta ratifikasi klaim teritorial wilayah Mesir, yang  dikenal sebagai Donasi Alexandria.

Ini disinyalir merupakan penyebab fatal rusaknya hubungan Antony dengan Romawi dan terutama dengan Octavianus.

Walaupun Donasi Alexandria tidak secara langsung mengancam posisi politik Octavianus di Romawi, namun akibat hal tersebut, pada tahun 34 SM, Mark Antony dan Octavianus terlibat dalam perang propaganda.

Mark Antony menuduh Octavianus telah sengaja menggulingkan Lepidus dari triumvirate untuk menguasai Romawi (yang memang benar adanya), dan tuduhan bahwa Octavianus juga menghalanginya membangun pasukan di Italia.

Sementara, Octavianus menuduh Mark Antony telah menahan Raja Armenia secara ilegal, menikah dengan Cleopatra VII walaupun sudah memiliki istri, dan berkhianat dengan terang-terangan mengakui bahwa Caesarion adalah pewaris Julius Caesar, dan bukanlah Octavianus yang ditunjuk langsung oleh Caesar.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perang propaganda ini telah membentuk suatu persepsi tidak baik mengenai Cleopatra VII, yang akhirnya dikenal luas bahkan hingga zaman modern saat ini.

Cleopatra VII dikatakan telah mencuci otak Mark Antony dengan sihir, menghamburkan uang untuk jamuan makan malam, dan bahkan meminta Mark Antony untuk mencuri buku-buku di Perpustakaan Pergamus Turki, untuk dialihkan ke Perpustakaan Alexsandria, walaupun beberapa klaim ini akhirnya diketahui merupakan rekayasa yang dikarang untuk menjatuhkan nama Cleopatra VII dan Mark Antony.

Akibat perang propaganda ini, maka Triumvirat yang sudah kedaluwarsa pada akhir 33 SM, tidak jadi diperpanjang, mengakibatkan Oktavianus dan Mark Antony tidak lagi memegang jabatan kenegaraan apapun di Romawi.

Walaupun Octavianus tinggal di Romawi, namun ia baru sadar bahwa kepopuleran dan kekuatan politik Mark Antony di Romawi masih sangat kuat.

Octavianus kemudian datang dan mengintimidasi para senator yang merupakan pendukung Mark Antony, sehingga akhinya para senator tersebut yang berujumlah sekitar 200 orang kabur dari Romawi, dan berangkat ke Alexandria untuk bergabung dengan Mark Antony.

Selama musim semi tahun 32 SM, Cleopatra VII berusaha membujuk Mark Antony untuk menceraikan istri romawinya, Octavia.

Hal tersebut membuat salah seorang senator pendukung Mark Antony yang tidak menyukai keterlibatan Cleopatra VII dalam perang saudara Romawi, yang bernama Lucius Munatius Plancus kembali kepada Octavianus dan membocorkan padanya tempat penyimpanan surat Mark Antony mengenai proklamasi yang dikirimkannya ke Romawi.

Surat tersebut disimpan oleh Vestal Virgin yang merupakan Pendeta wanita Vesta yang dianggap sebagai dasar keberlangsungan dan keamanan Romawi. Meskipun melanggar hak sakral dan hukum, Octavianus akhirnya memperoleh dokumen tersebut dari Kuil Vesta secara paksa, dan itu menjadi alat yang berguna dalam perang propaganda melawan Mark Antony dan Cleopatra VII.

Dalam propagandanya, Octavianus menyoroti bagian-bagian penting dari isi surat tersebut, seperti:

  • Caesarion yang ditunjuk sebagai pewaris Julius Caesar, padahal Caesar sendiri menunjuk Octavianus dalam surat waasiatnya,
  • Donasi Aleksandria, yang dijadikan sebagai bukti persengkokolan Mark Anotny dengan para anggota senat pendukungnya, guna mengikis wilayah kekuasaan Romawi,
  • Permintaan Mark Antony yang harus dimakamkan di samping Cleopatra VII di Mesir, bukan di Romawi, yang dianggap sebagai penghinaan besar bagi Romawi.
  • Mark Antony meminta Alexandria untuk dijadikan ibu kota baru Republik Romawi, yang dianggap melecehkan karena ibu kota nantinya akan berada di wilayah milik bangsa lain.

Setelah publikasi surat tersebut, tidak hanya Octavianus mendapatkan posisinya kembali, namun ia juga terpilih sebagai konsul pada tahun 31 SM. Dengan posisinya tersebut, Octavianus memiliki hak yang disebut ‘casus belli’.

Casus belli adalah ungkapan dalam bahasa Latin yang berarti “tindakan atau peristiwa yang memprovokasi atau digunakan untuk membenarkan perang”.

Octavianus akhirnya menggunakan haknya tersebut untuk mendeklarasikan perang terhadap Cleopatra VII dan bukan dengan Mark Antony. Argumen yang diberikan oleh Octavianus sebagai dasar deklarasi perang bukanlah masalah teritori kekuasaan Mesir, namun lebih kepada Cleopatra VII yang telah memberikan dukungan militer terhadap rakyat sipil yaitu Mark Antony, yang setelah triumvirat berakhir, tidak memiliki jabatan apapun di dalam pemerintahan Romawi.

Ketika Cleopatra VII mendapat kabar bahwa Romawi telah menyatakan perang, Mark Antony memberikan dukungannya kepada Mesir. Karena dukungannya tersebut, akhirnya Senat mencabut semua kekuasaan resminya dan mencap Antony sebagai penjahat dan pengkhianat.

Namun, 40% anggota Senat bersama dengan kedua konsul yang masih memihak Mark Antony, pergi meninggalkan Romawi menuju Yunani untuk memberikan dukungan mereka.

Pada tahun 31 SM dimulailah perang Octavianus melawan Cleopatra VII dan Mark Antony di atas laut, yang disebut-sebut sebagai perang laut terbesar di Romawi dalam 200 tahun terakhir. Perang ini terkenal dengan sebutan Battle of Actium.

Perang Naval ini dimenangkan oleh Octavianus secara mutlak, dimana akhirnya Mark Antony dan Cleopatra VII mundur dengan segilintir pasukan, dan kembali ke Alexandria. Kemudian peperangan berlanjut di darat, dimana pasukan Octavianus masih mengejar keduanya hingga ke Alexandria.

Pada saat itu Cleopatra VII memutuskan untuk bersembunyi di dalam kuilnya, sementara Mark Antony berperang menghadapi Pinarius yang merupakan jendral Octavianus. Mark Antony akhirnya kalah telak karena salah memperhitungkan jumlah pasukan yang dibawa oleh Pinarius.

Pada saat kekalahannya, diceritakan bahwa salah seorang pelayan Cleopatra VII membawa surat yang diitulis oleh Cleopatra bahwa ia telah melakukan bunuh diri di kuilnya. Mengetahui bahwa Cleopatra VII telah tiada, dan bahwa ia telah kalah perang dari Octavianus, akhirnya Mark Antony memutuskan untuk bunuh diri menyusul Cleopatra VII, dengan cara menusuk dirinya dengan pedang.

Tidak begitu dijelaskan secara detail bagaimana Mark Antony yang sekarat dibawa oleh teman-temannya untuk menemui Cleopatra VII di kuilnya. Cleopatra VII ternyata tidak melakukan bunuh diri dan mati seperti yang dikira oleh Mark Antony, dan akhirnya Mark Antony mati di dalam pelukan Cleopatra VII. Meninggalkan nasib Cleopatra VII di tangan Octavianus yang tiba tidak lama setelahnya.

Dalam usaha terakhirnya, Cleopatra VII bernegosiasi dengan Octavianus untuk mengampuni Caesarion dan sebagai gantinya ia rela untuk dipenjara. Octavianus hanya mengatakan bahwa Cleopatra VII akan dibiarkan hidup. Ia kemudian menahan Cleopatra VII dan memenjarakannya di Alexandria Mesir.

Sebelum dipenjara, Octavianus memberikan Cleopatra VII kesempatan untuk menguburkan Mark Antony secara layak di makam yang telah dibangun oleh Cleopatra VII, dimana Octavianus masih menghormati keinginan terakhir Mark Antony yang tertuang dalam suratnya, untuk dikuburkan di sebelah Cleopatra VII.

Setelah menjadi tawanan Octavianus di Alexandria, Cleopatra VII mendengar kabar bahwa dirinya akan dibawa ke Romawi. Cleopatra VII menolak hal tersebut terjadi karena ia tidak ingin diparadekan di tengah Romawi seperti adiknya Arsinoe IV, sebagai pertunjukkan kemenangnan Octavianus.

Diceritakan bahwa setelah mendengar kabar tersebut, Cleopatra VII beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri namun tidak berhasil. Dalam usaha terakhirnya, Cleopatra VII sebelumnya telah menulis surat kepada Octavianus bahwa ia ingin dikuburkan di makamnya, di sebalah Mark Antony.

Octavianus yang menerima surat tersebut sangat kaget, dan buru-buru menyuruh salah satu pelayannya untuk memeriksa kamar Cleopatra VII. Namun terlambat, setelah mendobak masuk kamarnya, Cleopatra VII ditemukan telah tewas bersama dengan pelayannya Iras dan penasihatnya Charmion.

Cleopatra VII diduga membunuh dirinya dengan racun ular, namun tidak diketahui dalam bentuk apa. Banyak yang memberikan teori mengenai penyebab kematian Cleopatra VII, seperti:

  • Plutarch yang menyangkal penyebab kematian Cleopatra adalah akibat racun ular, akibat tidak ditemukan apapun dalam catatan dokter pribadi Cleopatra VII tentang penyebab kematian Cleopatra VII, atau bahkan menyebut soal racun ular kobra mesir yang disebut asp.
  • Strabo percaya bahwa Cleopatra VII bunuh diri dengan racun asp; baik digigit langsung oleh asp atau mengoleskan salep yang mengandung racun asp. Namun ia juga berpendapat mungkin Cleopatra VII menggunakan alat semacam jepit rambut, mencakar kulitnya dan memasukkan racun di lukanya.
  • Menurut Cassius Dio, luka tusukan kecil ditemukan di lengan Cleopatra VII, dan menyetujui klaim Strabo bahwa Cleopatra VII menggunakan alat semacam jarum untuk memasukkan racun ke tubuhnya. Walaupun pada akhirnya Cassius Dio juga menggemakan klaim Plutarch bahwa tidak ada yang tahu penyebab sebenarnya dari kematiannya.
  • Sejarawan kontemporer lainnya seperti Florus dan Velleius Paterculus mendukung penyebab kematian versi strabo yaitu meninggal akibat gigitan asp.
  • Tabib Romawi Galen juga mendukung teori asp, tetapi ia mengajukan versi di mana Cleopatra VII menggigit lengannya dan memasukkan racun yang dibawa di dalam wadah.
  • Suetonius menyampaikan kisah tentang penggunaan racun asp, tetapi juga mengungkapkan keraguan tentang validitasnya.

Penyebab kematian Cleopatra VII jarang disebutkan dan diperdebatkan dalam penelitian modern awal. Namun diluar dari teori mengenai bunuh diri dengan menggunakan racun yang banyak disetujui, beberapa ahli sejarah mulai memberikan teori lain dan mempertanyakan kebenaran kematian Cleopatra VII akibat bunuh diri.

Menurut Gregory Tsoucalas, dosen sejarah kedokteran di Democritus University of Thrace, dan Markos Sgantzos, seorang profesor anatomi  di University of Thessaly kematian Cleopatra VII adalah akibat plot pembunuhan yang dirancang dan ditutupi oleh pemerintahan Romawi.

Sejarawan Patricia Southern berspekulasi bahwa Oktavianus mungkin memberi pilhan pada Cleopatra VII untuk memilih cara kematiannya sendiri.

Penemuan makam dan mumi Cleopatra VII kemungkinan besar dapat memberikan pencerahan mengenai penyebab kematiannya. Namun, hingga saat ini makam Cleopatra VII masih hilang dan belum ditemukan.

Para ahli sejarah dan Egyptomania hanya bisa berspekulasi saja mengenai penyebab kematian Cleopatra VII; apakah itu karena bunuh diri atau dibunuh oleh Octavianus.

Menurut catatan sejarah, Octavianus sangat kecewa atas kematian Cleopatra VII yang menghalanginya mendapatkan pesta kemenangan mutlak. Namun, Octavianus mengagumi keberanian Cleopatra VII sehingga ia akhirnya memberikan Cleopatra VII dan Mark Antony pemakaman miiter besar-besaran di Romawi.

Hal ini ia lakukan sebagian karena alasan penghormatan Octavianus kepada Mark Antony, dan alasan lainnya adalah untuk menunjukkan kepada orang-orang Romawi betapa baik hatinya Octavianus, alias pencitraan.

Setelah kematian Cleopatra VII, Octavianus akhinya memerintahkan untuk mengeksekusi Caesarion dan Marcus Antonius Antyllus yang merupakan anak tertua dari Mark Antony dan Fulvia. Namun Octavianus membiarkan anak Mark Antony lainnya, termasuk  ketiga anaknya dengan Cleopatra VII untuk hidup dan tinggal di Romawi.

Kemenangan besar Octavianus telah menjadikannya penguasa tunggal Romawi dan menandakan kejatuhan kerajaan Mesir.

Warisan Cleopatra VII

Dari catatan sejarah panjang tersebut, dapat disimpulkan bahwa Cleopatra VII bukanlah hanya sekedar Pharaoh Mesir wanita yang cantik dan pandai menggoda saja.

Namun, meskipun beberapa sejarawan modern menggambarkan Cleopatra VII sebagai pemimpin Mesir yang mahir dan populer, masih banyak orang yang cenderung memandang Cleopatra VII dari sudut pandang Romawi.

Selama masa hidupnya dan berabad-abad setelah kematiannya, propaganda Romawi, yang sebagian besar berasal dari Octavianus, melukiskan Cleopatra sebagai seorang pelacur berbahaya yang menggunakan seks, sihir, dan kelicikan untuk meraih kekuasaan, melebihi apa yang pantas bagi seorang wanita pada masa itu.

Penyair Horace, dalam tulisannya pada akhir abad pertama SM, menyebut Cleopatra VII sebagai “Seorang ratu gila dan licik yang  menghancurkan Ibu Kota dan menggulingkan Kekaisaran Romawi.”

Hampir seabad kemudian, penyair Romawi, Lucan, menjulukinya sebagai “Aib bagi Mesir, amarah hina yang akan menjadi kutukan Romawi.”

Propaganda Romawi oleh Octavianus mengenai Cleopatra VII adalah salah satu strategi politik Octavianus yang dilancarkannya dalam kekaisaran Romawi, dan untuk merusak imej Cleopatra VII yang populer sebagai fashion icon bagi warga Romawi, dimana menurut beberapa tulisan, kehadiran Cleopatra VII di Romawi pada zaman Julius Caesar telah mengubah cara berpakaian banyak wanita di Romawi.

Imej Cleopatra VII yang dilancarkan pada saat perang propaganda ini telah mengubah persepsi banyak orang Romawi terhadap Cleopatra VII. Terdapat banyak tulisan yang dibuat oleh bangsa Romawi, baik yang menceritakan soal  pesona Cleopatra VII , atau untuk menjatuhkan nama Cleopatra VII sendiri.

Tulisan-tulisan ini masih banyak dipercaya sampai sekarang, bahwa Cleopatra VII tidak lebih dari wanita yang kecantikannya sanggup menggoda banyak orang dan berkontribusi dalam kejatuhan triumvirat republik Romawi.

Namun menurut beberapa catatan kontemporer kerajaan Mesir yang ditemukan mengatakan bahwa Cleopatra VII merupakan salah satu Pharaoh yang sangat populer di kalangan bangsa Mesir sendiri. Alasannya adalah karena tidak seperti leluhurnya, yang berasal dari Macedonia Yunani, Cleopatra VII mau mempelajari bahasa Mesir, dan berpakaian layaknya seorang Pharaoh Mesir sehingga akhirnya ia mendapat sebutan Philopatris yang memiliki arti “dia yang mencintai negaranya.”

Cleopatra VII merupakan seorang negarawan sejati, karena ia tidak hanya duduk diam di istananya dan selalu memikirkan cara supaya negeri Mesir semakin sejahtera dan wilayah kekuasaan semakin meluas, meskipun saat itu Romawi jauh lebih besar dan menguasai banyak wilayah.

Cleopatra VII memiliki kebijakan luar negeri yang cukup berhasil, dimana ia meningkatkan perekonomian Mesir dengan perdagangan dengan negara-negara Timur seperti Arab dan mungkin India. Dengan peningkatan ekonomi Mesir yang signifikan, Mesir telah menjadi kerajaan yang paling kaya pada saat itu.

Ambisi Cleopatra VII untuk merebut kembali bekas wilayah Mesir yang direbut oleh bangsa Romawi dengan cara mendekati Julius Caesar dan Marc Antony juga merupakan taktik politiknya untuk semakin memperkuat posisinya dan kekuasan Kerajaan Mesir.

Cleopatra VII juga diketahui sebagai seorang Pharaoh yang pemberani dan memiliki strategi cerdas untuk mengalahkan musuh-musuhnya dalam peperangan, seperti ketika ia berhasil menggagalkan strategi Arsinoe IV dalam perang saudara, dan maju memimpin ratusan kapal perang untuk membantu Mark Antony dalam Battle of Actium melawan Octavianus dan pasukan Romawi.

Di balik kebangkitan dan kejatuhannya, atau strategi apapun yang ia lakukan, sepak terjang Cleopatra VII selama masa kepemimpinannya memiliki kesan tersendiri, sehingga setelah kematiannya pun, namanya tetap dikenal dan tetap abadi hingga sekarang.

BACA JUGA  Sejarah Kerajaan Samudera Pasai di Indonesia

Read Previous

Apa Bahasa Inggrisnya Jangan Banyak Bicara, Bacot, Cakap

Read Next

Apa Bahasa Inggrisnya Aku atau Saya

Tinggalkan Balasan