Review Film Midsommar (2019)

Review film Midsommar yang tayang di tahun 2019 ini Asaljeplak tulis untuk kamu yang penasaran ingin menontonnya.
review-film-midsommar-2019

Bagikan artikel ini :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on email
Share on print

Berikut ini merupakan review dari Asaljeplak atas film Midsommar yang bergenre Horror, Thriller dan tayang pada tahun 2019.

Info Film

Judul Film Midsommar
Genre Horror, Thriller
Tahun Rilis 2019
Sutradara Ari Aster
Penulis Naskah Ari Aster
Dibintangi oleh Florence Pugh
Jack Reynor
William Jackson Harper
Vilhelm Blomgren
Will Poulter

Sinopsis Film

Sekelompok anak muda yang mengunjungi festival di Swedia yang hanya diadakan setiap 90 tahun sekali, dan ternyata menyimpan banyak tradisi-tradisi yang sangat di luar akal sehat serta menyimpang dari norma-norma kehidupan modern.

Trailer Film

Review Film

A. Grafik, Visual, Sinematografi

Visual dari film ini bisa terbilang top-notch dan sangat memukau, menampilkan keindahan alam Swedia yang menakjubkan, tidak berlebihan dalam memberikan musik latar, serta semuanya menimbulkan nuansa yang pas untuk film bergenre Thriller yang cenderung “slow-burn” ini.

B. Alur dan Kekuatan Cerita

Alur cerita film ini sebenarnya sesaat agak membingungkan, dan bahkan sesaat terkesan tidak nyambung antara adegan pembuka dengan inti utama dari film ini, meskipun kalau digali secara psikologis mungkin dapat menjelaskan alasan karakter tersebut melakukan tindakan yang ada di akhir film. (NO SPOILER yaaa)

Meskipun temponya lambat dan bahkan tidak mengandalkan jump scare sama sekali, film ini berhasil menyampaikan ceritanya dengan cukup efektif, serta berhasil membuat penonton (contohnya Asaljeplak) menahan nafas saat beberapa adegan terjadi.

Kalimat-kalimat seperti “Anj*ng” ataupun “Bangs*t” pun terlontar dari mulut Asaljeplak untuk menggambarkan beberapa adegan yang kurang nyaman tersebut hahahaha.

C. Kualitas Akting

Dari segi akting, semua karakter di film ini sebenarnya tidak ada yng terlalu menonjol, kecuali karakter utamanya (Florence Pugh) yang memerankan Dani Ardor, anak wanita yang sebelum berangkat ke lokasi festival baru saja kehilangan saudara perempuan dan orang tuanya.

Sisanya berperan sebagai karakter-karakter pendukung yang umum ada di film Horor, seperti si banyak tingkah yang berlaku sembarangan, si kekasih yang diuji kesetiannya, si teman yang perilakunya misterius dan memiliki niat tersembunyi, dan si pintar yang rasa ingin tahu nya (terlalu) besar.

D. Layak ditonton Anak atau Tidak?

Karena film ini memiliki cerita yang sulit dicerna untuk anak-anak, dan mengandung adegan sadis dan juga mengandung pornografi, maka film ini menurut Asaljeplak tidak layak untuk ditonton anak-anak, terutama mereka yang masih di bawah usia 17 tahun.

E. Kesimpulan

KKN di desa penari ? Ya bisa diblilang kurang lebih ini versi bule (Skandinavia) nya meskipun tidak se-cheesy itu (Yang Asaljeplak yakin itu hanyalah karangan dan promosi dari suatu film atau novel pada saat membacanya di twitter).

Film Midsommar ini bisa dibilang lebih masuk ke ranah “disturbing” secara mental, dan bukan Horor, Slasher, Gore, ataupun Thriller yang pada umumnya.

Bagaimana tidak, di sepanjang film ini disajikan dengan visual yang cerah, warna warni yang vivid dan vibrant namun lembut, tetapi dibaliknya tersimpan beragam ritual dan misteri yang cukup mengganggu, dan bahkan faktanya pada zaman dahulu ritual ini memang dilakukan oleh para penduduk asli Swedia. (cari soal ritual Ättestupa di Google)

Para aktornya, terutama Florence Pugh (yang sangat bagus memerankan tokoh Paige di film Fighting with My Family), berhasil secara meyakinkan membawakan nuansa “tidak nyaman” ke dalam film Midsommar ini.

Film Midsommar merupakan bukti kalau film Horor sudah tidak perlu lagi hanya mengandalkan jump scare murahan, visual yang terlalu gelap, monster atau setan yang wujudnya nyeremin, karena di film ini justru menyampaikan pesan bahwa manusia pun bisa bertingkah layaknya “setan”, terutama apabila mereka terkungkung di dalam suatu ideologi, tradisi, dan budaya yang sebenarnya sudah tidak pantas diterapkan di era sekarang ini.

Bisa dibilang juga film ini sebenarnya adalah film tentang promosi turisme untuk Swedia, yang disamarkan sebagai film Horor yang sangat-sangat “disturbing” namun tetap memancing keinginan seseorang untuk berwisata ke sana hahaha.

Asaljeplak sendiri sangat menunggu kesempatan untuk dapat nonton versi Director’s Cut nya yang katanya berisikan banyak adegan-adegan yang tidak ditampilkan di versi sebelumnya, yang tentunya akan lebihh “disturbing” lagi.

Skor film ini menurut Asaljeplak: 4,5 / 5

Artikel Lainnya

Mau punya website sendiri ?

Yuk buat website di RBC Hosting

Kamu bisa membuat website apa saja, mulai dari sales page, profil usaha, website pribadi, blog, website acara, website katalog, undangan pernikahan online, dan masih banyak lagi sesuai kebutuhanmu. 

Mulai dari Rp300rb /tahun saja!

Loading...

Tinggalkan komentar