Kenapa Kita Terobsesi dengan Selebriti? (Parasocial Interaction & Erotomania)

Pernahkah kamu merasa teobsesi kepada selebriti, idol, atau social media influencer yang kita ikuti? Kamu merasa sedih saat dia sedih, merasa senang saat dia senang, merasa marah saat dia diganggu, dan merasa kecewa saat dia melakukan hal yang tidak kamu sukai.

Kamu juga mengetahui berbagai hal tentang mereka, seperti tanggal ulang tahun, warna favorit, makanan dan minuman kesukaan, merk pakaian yang mereka sukai,, dan terkadang lebih dibandingkan apa yang kamu ketahui soal keluargamu sendiri.

Hal tersebut juga tidak terbatas kepada para aktor, aktris, idol, atau influencer saja, tapi bisa juga pada karakter atau persona yang ditampilkan di suatu film, sinetron, drakor, atau media lainnya, atau bahkan misalnya dengan pemain bola atau klub bola kesayangan.

Ikatan emosional sekecil apapun yang kita rasakan dengan para selebriti, idol, influencer, dan lain sebagainya tersebut dikenal dengan nama Parasocial Interaction atau Parasocial Relationship.

Apa itu Parasocial Interaction ?

apa-itu-parasocial-interaction

Parasocial Interaction adalah suatu hubungan psikologis yang dirasakan pada saat melihat selebriti, idol, influencer, ataupun suatu karakter di layar kaca ataupun ponsel, atau media apapun yang tidak memungkinkan terjadinya interaksi langsung.

Tidak hanya media-media visual saja, parasocial interaction atau parasocial relationship ini juga bisa dirasakan pada saat kamu mendengar suara mereka di radio ataupun media audio lainnya.

Parasocial Interaction juga bisa digunakan untuk menjabarkan hubungan seseorang dengan Tuhan, Nabi, Rasul, tokoh politik seperti presiden, raja, dan lain sebagainya, jadi tidak terbatas kepada selebriti saja. Namun, supaya lebih fokus dan sesuai dengan judul artikel, Asaljeplak tidak akan membahas ke arah sana.

Istilah Parasocial Interaction

Istilah ini sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Sosiolog asal Amerika Serikat, Richard Wohl dan Donald Horton, pada jurnal mereka yang berjudul “Mass Communication and Para-Social Interaction : Observation on Intimacy at a Distance” alias “Komunikasi Massa dan Interaksi Parasosial : Observasi terhadap Keintiman yang Berjarak”, yang diterbitkan pada tahun 1956.

Wohl dan Horton menyatakan bahwa selebriti dan atau persona yang ditayangkan di televisi menawarkan keintiman kepada penonton, dan memiliki pengaruh dengan menggunakan penampilan dan gerak tubuh dengan cara yang terlihat menarik, secara langsung berbicara kepada audiens, dan berbicara dengan mereka secara ramah dan bersahabat.

Dengan melihat persona yang muncul di televisi secara teratur, penonton akan mulai merasakan ikatan dengan persona tersebut sehingga terjalin suatu hubungan yang makin lama semakin intens.

DI dalam jurnal tersebut, Wohl dan Horton mencoba mencari berbagai macam interaksi yang terjadi antara pengguna media massa dengan figur yang mereka lihat atau dengar di media, yang mana akhirnya si pengguna merasa memiliki suatu ikatan layaknya yang terjadi pada interaksi sosial secara normal.

Wohl dan Horton akhirnya menyimpulkan bahwa ikatan tersebut muncul dikarenakan kurangnya waktu dari si pengguna media massa untuk melakukan interaksi sosial yang normal dengan orang-orang di sekitarnya, sehingga Wohl dan Horton menganggap Parasocial Interaction sebagai suatu penyimpangan.

Kesimpulan tersebut dibantah melalui jurnal milik Elizabeth Perse dan Rebecca Rubin pada tahun 1989 yang berjudul “Attribution in social and parasocial relationships“.

Menurut Perse dan Rubin, ikatan yang muncul antara pengguna media dengan figur atau persona yang mereka lihat merupakan hal yang lumrah dan wajar terjadi apabila si pengguna telah menghabiskan banyak waktu dengan figur atau persona tersebut.

Parasocial Interaction vs Parasocial Relationship

Istilah Parasocial Interaction (PSI) dan Parasocial Relationship (PSR) terkadang digunakan secara bergantian untuk menunjukkan suatu hubungan parasocial.

Namun ada beberapa peneliti yang beranggapan bahwa masing-masing istilah memiliki definisi yang lebih spesifik, di mana Parasocial Interaction lebih mengacu kepada proses persepi sepihak dari pengguna media massa/penonton terhadap figur atau persona yang mereka lihat/tonton, sementara Parasocial Relationship mengacu kepada hubungan lintas-situasional yang dirasakan oleh pemirsa atau pengguna media massa kepada figur atau persona, yang mencakup komponen kognitif dan afektif yang spesifik.

Bahkan menurut Hannah Schmid dan Christoph Klimmt pada jurnal tahun 2011 yang berjudul “A magically nice guy: Parasocial relationships with Harry Potter across different cultures“, mereka menyimpulkan bahwa Parasocial Relationship adalah tahapan lebih lanjut dari Parasocial Interaction.

Jadi kurang lebih begini menurut Schmid dan Klimmt, kalau kamu menonton atau melihat seorang figur atau persona, baik itu di layar kaca ataupun media sosial kemudian merasakan koneksi alias merasa figur atau persona tersebut “relatable”, maka itu dinamakan Parasocial Interaction.

Semakin lama kamu mengikuti atau menonton kegiatan dari si figur atau persona, kemudian kamu semakin merasakan suatu koneksi emosional dengan mereka yang bisa dikatakan lebih intens, maka itulah yang dinamakan sebagai Parasocial Relationship.

Parasocial sendiri memiliki arti “hubungan yang satu arah”.

Parasocial Interaction dan Parasocial relationship di era Medsos dan Digital

Berkembangnya teknologi internet dan semakin umumnya penggunaan media sosial sekarang ini menjadikan semakin mudahnya kita berinteraksi dengan figur publik, yang terkadang menjadikan koneksi emosional yang kita rasakan bisa terasa lebih intens.

Hal ini bisa menjadi stimulan yang lebih efektif untuk berkembangnya Parasocial Interaction dan Parasocial Relationship di dalam diri seseorang, terutama pada influencer di suatumedia sosial yang memiliki fasilitas komen, DM, ataupun reply.

Karena, media sosial berbeda dengan media tradisional seperti televisi atau radio, di mana koneksi emosional yang dirasakan hanya murni satu arah dan kebanyakan dari penggunanya memahami hal tersebut karena toh mereka tidak bisa melakukan interaksi apapun.

Sementara media sosial mengaburkan itu semua dengan menyediakan fasilitas-fasilitas interaksi yang mereka sediakan di masing-masing platform.

Bayangkan betapa senangnya kita saat influencer yang kita ikuti membalas komen kita, atau saat mereka melakukan sesuatu atau memberikan opini yang sejalan dengan perilaku dan pemikiran kita.

Terkadang kita juga ingin menunjukkan dukungan kepada mereka dengan cara membeli produk yang mereka endorse, membeli merchandise yang mereka jual, atau membela mati-matian apabila ada pihak lain yang berbicara buruk soal mereka.

Bahkan, pada tahapan yang lebih intens, kita akan lebih memilih membela mereka dibandingkan dengan keluarga atau sahabat kita sendiri apabila terjadi pertentangan diantara kedua belah pihak, misalnya orangtua melarang kita mengikuti influencer yang kita sukai, sahabat kita memiliki opini berbeda soal influencer tersebut, dan lain sebagainya.

Parasocial Breakup

Dalam Parasocial Relationship, layaknya suatu hubungan lainnya, akan ada masa-masa perpisahan dengan selebriti, figur, idola, ataupun karakter yang kita idolakan tersebut, misalnya saat serial televisinya berakhir, saat selebriti menutup akun dari semua media sosial, atau saat selebriti meninggal dunia.

Rasa gundah, galau, sedih, biasanya akan muncul layaknya kita baru saja putus atau ditinggalkan oleh pacar, namun menurut penelitian yang dilakukan Eyal dan Cohen pada riset yang berjudul “When Good “Friends” Say Goodbye: A Parasocial Breakup Study” di tahun 2006, perasaan sedih tersebut tetap akan lebih lemah dibandingkan apabila hal itu terjadi pada hubungan kita dengan seseorang yang sifatnya dua arah.

Tapi tentu saja tingkat kesedihan ini akan berbeda-beda pada setiap orang, ada yang bisa dengan mudah move-on, ada yang sempat merasakan depresi beberapa lama, dan bahkan ada pula berlangsung selama bertahun-tahun dan tidak pernah hilang, tergantung dari tingkat koneksi emosional yang dimiliki masing-masing.

Apa itu Erotomania ?

apa-itu-erotomania

Apabila koneksi emosional yang kamu rasakan sudah semakin intens dan mulai timbul suatu delusi bahwa figur, persona, idol, atau influencer yang kamu idolakan tersebut memiliki perasaan khusus terhadapmu, maka bisa jadi kamu sudah mengalami suatu kondisi penyimpangan psikologis yang disebut Erotomania.

Definisi Erotomania

Erotomania adalah suatu penyimpangan delusional dan merupakan suatu bentuk paranoid yang tidak biasa, yang mana penderitanya merasa bahwa orang lain tergila-gila kepada dirinya.

Orang lain yang dimaksud di sini bisa saja merupakan tokoh imajiner atau khayalan, seseorang yang sudah meninggal, atau seseorang yang belum pernah mereka temui sebelumnya, dan dalam lingkup Parasocial bisa berarti selebriti atau influencer.

Erotomania lebih umum ditemui pada wanita pemalu, tidak independen, dan tidak berpengalaman secara seksual, yang biasanya memiliki delusi tentang seorang pria dengan status sosial yang jauh lebih tinggi, atau sudah menikah, atau tidak tertarik kepada penderita, memiliki perasaan cinta yang mendalam atau tergila-gila kepada penderita.

Tanda-tanda seseorang menderita Erotomania

Erotomania pada pria umumnya akan jauh lebih agresif dibandingkan pada wanita, dan cenderung menimbulkan perilaku kasar dan lebih mungkin untuk menguntit seseorang yang mereka rasa di dalam delusi mereka itu mencintai mereka.

Penderita Erotomania juga akan lebih mungkin mengalami delusions of reference, yang mana mereka akan melihat dan mengambil hal-hal yang terjadi di sekitar mereka, dan mengaitkannya dengan perasaan cinta yang dimiliki oleh objek dari si penderita terhadap dirinya.

Jadi misalnya, seorang selebriti baru membeli mobil dengan nomor polisi B 123 CD, maka penderita Erotomania yang terobsesi dengan selebriti tersebut akan berfpkiran, “wah, dia beli mobil dengan nomor 123, itu kan sama dengan tanggal lahirku 12 Maret, itu pasti merupakan bentuk perasaan dia terhadapku”.

Ya, memang kebanyakan kita akan sering bercanda seperti itu, tapi bagi penderita Erotomania, terutama yang sudah kronis. mereka akan menganggap hal tersebut dengan serius.

Contoh lainnya misalnya saat penderita Erotomania menghadiri acara jumpa fans dengan selebriti pujaannya, yang pada suatu kesempatan tanpa sengaja selebriti tersebut melihat kearahnya dan tersenyum, itu bisa diartikan bahwa senyuman tersebut ditujukan kepada dirinya saja, padahal pada kenyataannya tidak demikian.

Beberapa gejala umum yang ditunjukkan oleh penderita Erotomania terhadap selebriti adalah:

  • Secara obsesif mengikuti segala kegiatan yang dilakukan oleh selebriti tersebut, baik melalui artikel, media sosial, tayangan di TV, youtube, dan lain sebagainya,
  • Sering mengirim surat atau hadiah kepada selebriti tersebut,
  • Sering mencoba menelpon atau mendatangi lokasi selebriti,
  • Sering menangkap tanda-tanda yang dirasa ditunjukkan kepada dirinya padahal bukan,
  • Sering cemburu apabila selebriti tersebut menjalin hubungan dengan orang lain, dan memiliki anggapan bahwa selebriti tersebut tidak setia kepada dirinya,
  • Tidak tertarik melakukan hal-hal lainnya kecuali membicarakan soal selebriti tersebut,
  • Berlaku agresif saat dapat bertemu dengan selebriti tersebut, misalnya mencoba merangkul, menggenggam tangan, menjambak, dan lain sebagainya.

Penyebab Erotomania

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menderita Erotomania, baik itu yang berasal dari dalam diri (internal) ataupun faktor yang berasal dari lingkungan, pergaulan, keluarga, dan gaya hidup (eksternal).

Beberapa ciri umum dari seseorang yang menderita Erotomania antara lain adalah:

  • Tingkat percaya diri yang rendah,
  • Sering merasa ditolak oleh pergaulan atau sering merasa kesepian,
  • Tidak aktif melakukan interaksi sosial,
  • Kesulitan memahami sudut pandang milik orang lain.

Sementara faktor medis dan psikologis yang juga umum ditemukan pada penderita Erotomania adalah:

  • Orang-orang yang juga menderita Schizophrenia,
  • Orang-orang yang juga menderita Bipolar Disorder,
  • Mengalami stress atau trauma yang mendalam,
  • Penderita tumor otak,
  • Pecandu obat-obatan dan atau alkohol,
  • Penderita Dementia (meskipun ini agak langka ditemui)

Perbedaan Parasocial Relationship dengan Erotomania

apa-itu-parasocial-relationship

Salah satu perbedaan untuk mengetahui apakah kamu sudah termasuk ke dalam Erotomania atau baru sebatas memiliki Parasocial Relationship dengan selebriti, idola, atau influencer yang kamu kagumi adalah dalam hal tingkat obsesi dan delusi yang dirasakan, seperti yang sudah dicontohkan sebelumnya.

Pada penderita Erotomania, tingkat obsesi akan sangat intens dan bahkan penderita tidak akan menyadari bahwa mereka itu adalah seorang penderita Erotomania, karena di dalam pikiran mereka, si selebriti pujaan itu memang milik mereka dan bukan milik orang lain, dan mereka akan melakukan apa yang mereka anggap interaksi normal antar pasangan pada umumnya.

Sementara biasanya dalam Parasocial Relationship batasan-batasan tersebut masih tampak jelas, dan biasanya apabila ada celetukan soal hubungan antara mereka dengan selebriti yang intim itu hanya sebatas candaan atau harapan saja, tetapi tidak sampai menimbulkan delusi.

Perlukah Parasocial dan Erotomania disembuhkan?

Banyak hal positif yang bisa kita ambil dari rasa kagum atau koneksi emosional kita terhadap seorang selebriti, idola, ataupun influencer,

Karena, meskipun hubungannya hanya satu arah, tetapi apabila mereka bisa membuat kita jadi lebih semangat dalam menjalani aktifitas kita sehari-hari, membuat kita tertawa di saat kita sedih, dan atau membuat kita termotivasi untuk mengikuti jejak kesuksesan mereka, maka hubungan yang demikian masih tergolong sehat dan bahkan baik.

Namun, saat kamu merasa kamu sudah terlalu membela figur, idola, ataupun selebriti secara berlebihan hingga merusak hubungan kamu dengan teman atau keluarga, ada baiknya kamu renungkan dan mulai coba kurangi tingkat obsesimu, terutama apabila teman ataupun keluargamu selama ini selalu ada untuk membantu kamu di saat-saat sulit.

Di sini Asaljeplak bukan menyarankan untuk menghentikan koneksi emosional dengan para figur publik itu, tetapi lebih kepada saran supaya kamu bisa mengontrol obsesi kamu tersebut, supaya hubunganmu dengan teman dan atau keluarga tidak menjadi berantakan.

Tetapi apabila tingkat obsesi sudah mencapai tahap Erotomania, sebaiknya segeralah lakukan terapi ke profesional seperti psikolog untuk mencoba mencari solusi dari sudut pandang psikis, atau apabila ada beberapa hal yang perlu ditangani dengan menggunakan obat-obatan seperti obat penenang, maka kamu bisa mencoba konsultasi dengan psikiater.

Semoga penjelasan dari Asaljeplak mengenai mengapa kita terobsesi dengan selebriti, kemudian mengenai parasocial interaction, parasocial relationship, dan Erotomania ini bisa semakin meningkatkan pemahaman kamu mengenai hal-hal tersebut ya.

BACA JUGA  5 Harga Headphone Terbaik di Bawah 500 Ribuan

Read Previous

Bagaimana sih Cara Kerja Internet ?

Read Next

Contoh Surat Lamaran Kerja Bartender dalam Bahasa Inggris

Tinggalkan Balasan