Riset Primer ( Primary Research ) part 1

0
530
Beri Nilai untuk Artikel ini

Riset Primer adalah melakukan riset sendiri apabila riset sekunder tidak berhasil dilakukan. Dua metode utama yang paling sering digunakan adalah metode survey dan wawancara, sementara metode-metode lainnya adalah observasi dan eksperimen

 

1. Melakukan Survey

Metode Survey dapat memberikan pandangan yang berbeda dan sangat berharga pada berbagai macam variasi topik bisnis, selama informasi yang didapat itu valid dan dapat dipecaya.

Dalam memilih orang-orang yang akan berpartisipasi di dalam survey yang dilakukan, salah satu tugas yang paling kritikal adalah mendapatkan sampel yang representatif dari suatu populasi yang ingin di teliti. Survey online yang belakangan ini marak ditempatkan pada website-website sangat potensial mendapatkan hasil yang bias; mereka mendapatkan opini-opini hanya dari orang-orang yang mengunjungi website tersebut saja dan tentunya yang ingin berpartisipasi dalam mengisi survey saja, sehingga tidak dapat mewakili populasi dari target yang dituju.

Untuk mengembangkan suatu kuesioner yang efektif, dimulai dengan gap informasi yang telah diidentifikasi sebelumnya, kemudian di bagi ke dalam beberapa pertanyaan spesifik dengan mengajukan pertanyaan yang tepat pada setiap poin-poin nya.

Berikut ini merupakan langkah-langkah yang akan membantu menghasilkan sebuah kuesioner yang valid dan dapat diandalkan:

  • Berikan Instruksi yang jelas. Responden perlu untuk mengetahui bagaimana cara mengisi kuesioner tersebut.
  • Jaga agar kuesioner tersebut ringkas dan mudah dijawab. Berikan pertanyaan yang relevan saja dengan riset yang dilakukan. Semakin panjang dan banyak pertanyaan yang diajukan, maka akan semakin besar kemungkinan untuk responden menjadi frustasi dan berhenti untuk mengisi kuesioner.
  • Apabila dimungkinkan, formulasikan pertanyaan agar mendapat jawaban yang mudah untuk dianalisa. Angka dan Fakta lebih mudah untuk menyimpulkan sebuah opini atau jawaban.
  • Hindari pertanyaan yang mengarahkan. Pertanyaan yang dapat mengarah kepada jawaban tertentu akan membuat survey menjadi bias. Cth: pertanyaan seperti, “Jam berapa biasanya anda pergi berbelanja?” akan lebih baik dibandingkan pertanyaan seperti, “Apakah anda ingin agar kami tetap buka di malam hari demi lebih memberikan kenyamanan bagi konsumen?”, karena pada pertanyaan ini akan lebih cenderung memancing responden untuk menjawab “iya”.
  • Hindari pertanyaan yang ambigu. Pertanyaan semacam “Apakah anda sering berbelanja secara online?” akan memberikan suatu pertanyaan yang ambigu, karena kata “sering” itu relatif bagi tiap-tiap orang.
  • Berikan satu pertanyaan saja pada tiap poin. Pertanyaan yang majemuk seperti “Apakah anda membaca buku dan majalah” hanya dapat dijawab oleh responden yang membaca keduanya dan akan membingungkan responden yang hanya membaca buku saja atau majalah saja.
  • Rancang survey yang adaptif. Hasil yang lebih berguna biasanya akan lebih mudah didapat apabila kita dapat mengadaptasi urutan pertanyaan berdasarkan respons dari audiens.seperti, berikan instruksi “apabila anda menjawab iya, lanjutkan ke pertanyaan nomor 12”.

Sebelum melakukan survey, sebaiknya kita melakukan tes terlebih dahulu kepada sebuah grup sampel untuk mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang masih membingungkan atau yang dapat memberikan jawaban yang berbeda dari yang diharapkan.Dibandingkan dengan surat tradisional dan tehnik personal, survey online lebih cepat dibuat, lebih mudah di urus, lebih cepat untuk di analisa, dan biaya keseluruhannya lebih murah.  Kemampuan interaktif dari sebuah web dapat meningkatkan kualitas survey, mulai dari polling opini yang sederhana hingga kepada simulasi pembelian yang kompleks. Banyak sistem-sistem perusahaan yang mempunyai fitur polling yang akan mempermudah untuk menanyakan kepada rekan kerja untuk melakukan voting pada isu-isu yang spesifik.

Yang perlu diperhatikan adalah, jangan sampai segala kemudahan yang diberikan oleh sistem survey online menurunkan tingkat perencanaan yang hati-hati dalam membuat sebuah survey. Karena survey online membutuhkan penanganan yang sama seperti metode-metode survey lainnya, termasuk kemungkinan terjadinya sampling yang bias.

2. Wawancara

Mendapatkan informasi  langsung dari ahlinya dan juga dari audiens lainnya dapat menjadi metode yang baik dalam mengumpulkan informasi primer. Walaupun wawancara relatif mudah untuk dilakukan, tetap harus membutuhkan perencanaan yang hati-hati untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan agar memaksimalkan waktu wawancara.

Merancang sebuah wawancara serupa dengan merancang segala bentuk lain dari komunikasi. Dimulai dari menganalisa tujuan, mempelajari tentang orang yang akan diwawancara, dan memformlasikan ide utama. Setelah itu dilanjutkan dengan memutuskan panjang, gaya, dan organisasi yang akan di wawancara. Wawancara dapat menggunakan bermacam-macam format, mulai dari bertukar e-mail hingga kepada diskusi grup.

BACA JUGA :  Panduan Umum Menginstal Microsoft Windows

Jawaban yang diperoleh dipengaruhi oleh tipe pertanyaan yang diajukan, cara mengajukan pertanyaan, dan juga dari latar belakang budaya dan bahasa dari subjek wawancara. Faktor-faktor lain mencakup ras, jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan status sosial, karenanya mengetahui mengenai subjek sangat penting sebelum memulai menulis pertanyaan-pertanyaan untuk wawancara. Sebagai tambahan, perhatikan pula implikasi-implikasi etika, dan juga masalah-masalah lain seperti kerahasiaan, politik, dan isu-isu sensitif lainnya.

Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang terbuka (open-ended questions) untuk mengundang narasumber untuk memberikan opini-opini, pandangan, dan juga informasi, contohnya seperti “Mengapa anda percaya bahwa Amerika Selatan dapat mewakili sebuah kesempatan yang lebih baik dibandingkan Eropa untuk lini produk ini?”, tapi perlu diingat bahwa pertanyaan terbuka dapat memberikan kontrol yang kurang terhadap waktu wawancara. Seseorang bisa membutuhkan 10 detik atau 10 menit untuk menjaab pertanyaan yang diajukan, jadi sebaiknya persiapkan untuk tetap fleksibel.

Ajukan pertanyaan-pertanyaan tertutup (closed questions) untuk memancing sebuah jawaban spesifik seperti “ya” dan “tidak”. Namun, mengajukan terlalu banyak pertanyaan tertutup di dalam sebuah wawancara akan membuat keadaan menjadi seperti sebuah survey sederhana.

Langkah-langkah yang akan membantu menyiapkan pertanyaan wawancara adalah sebagai berikut :

  • Pikirkan mengenai urutan. Susun pertanyaan-pertanyaan dengan suatu cara yang akan membantu membuka lapisan informasi atau yang dapat membantu subjek menceritakan cerita yang lengkap kepada kita.
  • Beri nilai pada pertanyaan dan tandai beberapa yang ingin diketahui jawabannya. Jika mulai kekurangan waktu pada saat wawancara maka bisa bertanya hal-hal yang paling penting saja.
  • Tanyakan pertanyaan yang cerdas. Apabila anda menanyakan pertanyaan yang dirasa kurang cerdas oleh narasumber, wawancara biasanya tidak akan berjalan lancar.
  • Batasi jumlah pertanyaan. Selama setengah jam wawancara, rencanakan 15—20 pertanyan, tanamkan bahwa pertanyaan terbuka bisa membutuhkan waktu lebih lama.
  • Edit pertanyaan-pertanyaan tersebut. Cobalah untuk membuat pertanyaan-pertanyaan yang netral dan mudah dimengerti.

Siapkan pertanyaan-pertanyaan wawancara tersebut paling tidak sehari atau dua hari sebelum wawancara, terutama apabila kita ingin mengutip subjek di dalam sebuah tulisan atau jika pertanyaan-pertanyaan yang diajukan membutuhkan pengarahan terhadap subyek untuk melakukan riset atau untuk membutuhkan waktu lebih dalam memberikan jawaban. Apabila wawancara ingin direkam, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kepada narasumber.

 

Setelah melakukan wawancara, tuliskan kembali pendapat-pendapat anda, membaca ulang catatan-catatan, dan menyusun materi-materi yang ada. Tandai tema-tema yang penting, fakta-fakta yang mendukung atau statistik, dan kutipan langsung. Apabila wawancara tersebut direkam, tuliskan hasil rekaman tersebut kata per kata dari si narasumber atau buat catatan dari hasil rekaman.

Wawancara face-to-face memberikan kesempatan untuk melihat reaksi atas pertanyaan-pertanyaan dan mengamati sinyal-sinyal non-verbal yang akan ada seiring dengan jawaban yang diberikan. Wawancara juga bisa dilakukan melalui e-mail, sehingga akan memberikan waktu bagi si narasumber untuk memikirkan jawaban-jawabannya.

Sebagai tambahan dari wawancara individu, para peneliti bisnis dapat menggunakan grup wawancara yang dinamakan focus group. Dalam format ini, seorang moderator memimpin dan mengarahkan grup atas sebuah susunan pertanyaan. Keuntungan utama dari focus group ini adalah peluang untuk belajar dari dinamisasi grup dikarenakan para partisipan memberikan ide-ide dan pertanyaan terhadap satu sama lain. Focus group ini dapat membuka lebih banyak informasi daripada sebuah wawancara individu.

 

Beri Komentar